Archive for June, 2006

Seputar Manhaj II

Sunday, June 25th, 2006

Pemikiran Salafi

28 Mac 2006
Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah - Dr.Yusuf Al Qordhowi

Yang dimaksud dengan "Pemikiran Salafi" di sini ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.

Kriteria Manhaj Salafi yang Benar

Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :

  1. Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
  2. Mengembalikan masalah-masalah "mutasyabihat" (yang kurang jelas) kepada masalah "muhkamat" (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.
  3. Memahami kasus-kasus furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
  4. Menyerukan "Ijtihad" dan pembaruan. Memerangi "Taqlid" dan kebekuan.
  5. Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.
  6. Dalam masalah fiqh, berorientasi pada "kemudahan" bukan "mempersulit".
  7. Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
  8. Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
  9. Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
  10. Menekankan sikap "ittiba’" (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat "ikhtira’" (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.

Inilah inti "manhaj salafi" yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan "negara ilmu dan Iman". Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.

Citra "Salafiah" Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra

Istilah "Salafiah" telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap "salafiah". Orang-orang yang pro-salafiah - baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah - telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda "debat" dan "polemik", bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan "Salafiah" ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.

Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini "terbelakang", senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.

Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan "salafiah" dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan"pembaruan Islam" pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.

Mereka telah menumpas faham "taqlid", "fanatisme madzhab" fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi "ashobiyah madzhabiyah" ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah "Raf’l - malaam ‘anil - A’immatil A’lam" karya Ibnu Taimiyah.

Demikian gencar serangan mereka terhadap "tasawuf" karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab "Al-Hulul Wal-Ittihad" (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan "tasawuf" untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari "Majmu’ Fatawa" karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah "Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in", dalam tiga jilid.

Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan Mereka

Yang perlu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.

Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam "taqlid" yang baru. Dan berarti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. Yaitu manhaj "nalar" dan "mengikuti dalil". Melihat setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim

Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: "Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia".

Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: "Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid".

Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.

Namun, orang seringkali melupakan, sisi "dakwah" dan "jihad" dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna "Salafiah" yang sesungguhnya.

Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan "salafiah", dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi "salafiah", ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah "Al-Manar’ yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa "bendera" salafiah ini, menulis Tafsir "Al-Manar" dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Rasyid Ridha adalah seorang "pembaharu" (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca "tafsir"nya, sperti : "Al-Wahyu Al-Muhammadi", "Yusrul-Islam", "Nida’ Lil-Jins Al-Lathief", "Al-Khilafah", "Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid" dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan "Manar" (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran "salafiah"nya.

Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah "emas" yang terkenal dan belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :

"Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat."

Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai "pengikut Salaf".

Pendapat para ulamak tentang Syeikh Muhammad bin Abd Wahab dan perjuangannya

Tuesday, June 20th, 2006

1. Prof. Dr. Yusof al-Qaradhawi telah menyatakan pandangannya terhadap Syeikh Muhammad bin Abd Wahab di dalam beberapa buah kitab, antaranya:

a) Fiqh al-Awlawiyat:

“Al-Imam Muhammad bin Abd Wahab yang berada di semenanjung tanah Arab telah menjadikan Aqidah sebagai keutamaan disisinya, bagi memelihara tauhid daripada unsur-unsur syirik dan khurafat yang mencemarkan kesuciannya. Dia telah mengarang beberapa buah kitab dan risalah-risalah tentang perkara ini. Dengan kemampuannya, dia telah menggerakkan dakwah dan amal dalam memusnahkan segala gambaran-gambaran syirik”.

b) Thaqafat al-Daa‘iyah:

“Hendaklah diberi perhatian kepada gerakan-gerakan pembaikan dan tajdid yang telah tercatat di dalam sejarah Islam, dan dengan tokoh-tokoh gerakan tajdid yang telah dibangkitkan oleh Allah di kalangan umat ini dari masa ke semasa bagi melakukan tajdid terhadap agamanya, tidak kira dari latar belakang mana sekalipun mereka itu. Di antara mereka ialah para khulafa’ seperti Umar bin Abd al-Aziz, atau dari kalangan raja dan pemerintah seperti Nur al-Din dan Salah al-Din, atau para fuqaha’ dan pendakwah seperti al-Syafie, al-Ghazali, Ibn Taimiyah dan Ibn Abd al-Wahab. Dan yang dikatakan mujaddid itu boleh jadi samada individu tertentu atau sebuah jamaah atau pusat pengajian yang jelas nyata tujuannya di dalam melakukan pembaikan…”

c) Haqiqat al-tauhid: Di dalam kitab ini Syeikh Yusof al-Qaradhawi telah menggelarkan Syeikh Muhammad bin Abd Wahab dengan gelaran “Syeikh al-Islam”.

d) Al-Sahwat al-Islamiyah, di bawah tajuk Harakat al-Tajdid wa al-da’wah wa atharuha fi al-sahwat, al-Qaradhawi berkata:

“…sesungguhnya kebangkitan ini merupakan pembaharuan kepada gerakan-gerakan Islam dan pusat-pusat pemikiran dan amal yang telah didirikan sebelum ini, sebahagiannya telah lenyap dan sebahagiannya masih wujud berdiri dengan bentuk yang sama atau bentuk yang lain sehingga ke hari ini. Gerakan-gerakan ini telah didirikan oleh para tokoh yang benar. Masing-masing berusaha untuk melakukan pembaharuan (tajdid) agama atau menghidupkan kembali Ummah di satu tempat yang tertentu atau di banyak tempat daripada tanah air Islam…Sejarah telah mencatatkan bahawa di antara mereka itu ialah mujaddid kepulauan tanah arab, pencetus kepada da’wah salafiyah, tokoh keluaran madrasah Hanbali, iaitulah Syeikh Muhammad bin Abd Wahab yang mana Daulah Saudi telah didirkan di atas asas da’wahnya”.

2. Pandangan Syeikh Muhammad Qutb di dalam kitabnya “Halummu nakhruj min al-zhulumat”:

“Sesungguhnya kebangkitan yang benar lagi sejati itu tidak dapat dimasuki oleh unsur-unsur kristianisas, maka sesungguhnya gerakan Syeikh Muhammad bin Abd Wahab ialah satu berita gembira yang hakiki kepada kebangkitan Ummah ini daripada kelalaiannya…”

“Sesungguhnya gerakan yang telah dipelopori oleh Syeikh Muhammad bin Abd Wahab bagi menjernihkan kembali aqidah adalah satu gerakan yang hakiki dalam menggerakkan kebangkitan dunia Islam…”

Di dalam kitab “Kaifa naktub al-tarikh al-islami” Syeikh Muhammad Qutb menyatakan bahawa:

“Manusia menyangkakan bahawa Islam ini telah berakhir dengan berakhirnya Daulah Umawiyah, zamannya telah tamat dengan tamatnya zaman Abbasi, dan akhirnya manusia juga menyangkakan bahawa Islam ini telah lenyap dengan lenyapnya zaman Khilafah Uthmaniyah dan jadilah Islam itu sebahagian daripada lagenda sejarah…tetapi semua sangkaan mereka ini tidak benar sama sekali. Islam tidak akan berakhir dalam mana jua keadaan getir yang dihadapinya, walaupun keadaan getir yang melanda tersebut seolah-olah telah menghancurkannya. Ini kerana Allah swt telah menetapkan bahawa Islam ini akan terus kekal di atas muka bumi ini sehingga hari Qiamat…dan di antara penyebab yang dijadikan Allah bagi mengekalkan Islam ini setelah menghadapi suasana getirnya ialah dengan kebangkitan Islam. Benarlah bahawa gerakan utama kepada kebangkitan ini ialah gerakan Syeikh Muhammad bin Abd Wahab di kepulauan tanah Arab…”

3. Pandangan Syeikh Muhammad al-Ghazali di dalam kitabnya “al-Da’wah al-Islamiyah tastaqbil qarnuha al-khamis ‘asyar” :

“…sesungguhnya kami menyatakan bahawa satu-satunya gerakan yang telah membangkitkan kembali umat Arab bagi memperbaiki semula aqidah dan ibadah dan yang seumpama dengannya daripada segala bentuk penyelewengan…yang kami maksudkan ialah gerakan pembaharuan yang telah diasaskan oleh Muhammad bin Abd Wahab di kepulauan tanah Arab…”

Di dalam kitabnya “Mi ‘ah sual ‘an al-Islam”, Syeikh Muhammad al-Ghazali berkata: “Syeikh Muhammad bin Abd Wahab telah mengangkat syiar Tauhid, dan benarlah yang dia telah melakukannya. Dia telah mendapati dirinya berada di dalam suasana yang mana kubur disembah, mereka memohon kepada yang telah mati perkara-perkara yang tidak boleh dipohon kecuali daripada Allah swt…”

4. Pandangan Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili di dalam kitabnya “Taathur al-da’wat al-islahiyah al-Islamiyah bida’wah al-Syeikh Muhammad bin Abd al-Wahab”:

“Sesungguhnya yang paling jelas suara kebenarannya, yang paling besar seruan ke arah pembaikan, dan jihad bagi mengembalikan keperibadian Islam dengan berpegang kembali dengan manhaj salaf al-saleh ialah da’wah Syeikh Muhammad bin Abd Wahab pada kurun ke-12 hijrah, bagi melakukan pembaharuan (tajdid) terhadap suasana kehidupan Islam, selepas didapati berlakunya ditengah masyarakat pelbagai khurafat, bid’ah dan penyelewengan. Maka Ibn Abd Wahab adalah benar, seorang ketua kepada kebangkitan dan pembaikan agama yang ditunggu-tunggu, yang telah membetulkan semula neraca aqidah Islam dan menjelaskan hakikat tauhid yang suci kepada Allah Azza wa Jalla…”.

5. Pandangan Syeikh Ali al-Tantawi di dalam kitabnya “Muhammad bin Abd al-Wahab”:

“…manusia beri’tiqad segala manfaat dan mudharat bergantung kepada Rasul dan para solehin, dengan kubur dan pokok-pokok, mereka memohon daripadanya segala hajat, mereka mengembalikan urusan mereka dikala kesusahan kepadanya, bernazar dan menyembelih kepadanya dan mereka sangat membesarkan orang yang telah mati…Dalam suasana begini, muncullah Muhammad bin Abd Wahab rahimahullah…dan Allah mengkehendaki baginya kebaikan, maka ditaqdirkan bahawa dialah di antara salah seorang yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah sesungguhnya mereka itu diutuskan bagi melakukan tajdid terhadap agama, dan Allah telah menetapkan bahawa di tangannyalah bumi Najd ini telah kembali kepada tauhid yang sahih dan al-din yang benar, dan kembali wujudnya kesatuan selepas daripada perselisihan dan perpaduan selepas daripada perpecahan…”

6. Pandangan Syeikh Muhammad Abduh terhadap Syeikh Muhammad bin Abd wahab seperti yang dinukilkan oleh Syeikh Hafiz Wahbah di dalam kitabnya “50 ‘aam fi jazirat al-arab”, bahawa Syeikh Muhammad Abduh semasa sessi mengajar di al-Azhar telah memuji Syeikh Muhammad bin Abd Wahab, dan dia telah menggelarkannya sebagai “refosmis yang agung”.

7. Pandangan Al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridha di dalam muqaddimah kitab “Siyanat al-insan”:

“Setiap kurun daripada kurun-kurun yang banyak berlaku padanya perkara-perkara bid’ah tidak akan pernah sunyi daripada ulamak rabbani; yang melakukan tajdid terhadap umat ini urusan agama mereka dengan melakukan da’wah, pengajaran dan contoh ikutan yang baik, dan (ia juga tidak akan sunyi) daripada mereka yang adil yang melakukan penentangan terhadap penyelewengan golongan yang melampau, dakwaan bohong golongan yang batil dan takwil golongan yang jahil, seperti yang disebutkan di dalam hadis.

Sesungguhnya Syeikh Muhammad bin Abd Wahab al-Najdi adalah dari kalangan mereka yang adil, mujaddid yang telah bangun menyeru ke arah pemurnian tauhid dan ikhlas beribadah hanya kepadaNya, dengan apa yang telah disyariatkan di dalam kitabNYa dan daripada lisan Rasulnya saw dan seruan ke arah meninggalkan segala perkara bid’ah dan maksiat serta menghidupkan semula syiar Islam yang telah ditinggalkan…”

8. Pandangan Syeikh Muhammad Abu Zahrah:

“Munculnya gerakan al-wahabiyah di tengah-tengah bumi sahara arab ini merupakan tindak balas daripada sikap melampau dalam memuliakan tokoh-tokoh tertentu dan mengambil berkat daripada mereka, begitu juga dengan menziarahi mereka dengan tujuan ingin menghampirkan diri (taqarrub) kepada Allah. Ia juga merupakan kesan daripada tersebarnya banyak amalan bid’ah yang bukan daripada agama, yang mana ia berlaku ketika musim-musim tertentu yang ada kaitan dengan agama dan dalam amalan-amalan keduniaan. Maka datanglah gerakan al-wahabiyah untuk menentang semua ini dan menghidupkan kembali mazhab Ibn Taimiyah”.

9. Pandangan Dr. Taha Hussain:

“Gerakan ini, iaitu gerakan al-wahabiyyin yang telah diasaskan oleh Muhammad bin Abd Wahab, seorang alim daripada ulamak Najd…sesungguhnya gerakan ini baru tetapi hakikatnya telah lama, ia baru jika dinisbahkan kepada generasi terkemudian ini, tetapi ia telah lama kerana seruannya tidak lain tidak bukan kecuali kepada Islam yang tulen, suci dan bersih dari sebarang unsur syirik dan penyembahan yang lain. Ia adalah da’wah kepada Islam seperti mana yang telah dibawa oleh Nabi saw tulus suci hanya kerana Allah dan menghapuskan semua perantaraan di antara manusia dan Allah…”

10. Pandangan Syeikh Salman bin Fahd al-Awdah di dalam kitabnya “Jazirat al-islam”:

“Sesungguhnya di semenanjung tanah Arab ini terdapatnya ilmu, para ulamak, tajdid dan para mujaddid yang merentasi setiap zaman. Kebanyakan ahli ilmu pula terdapat di Makkah atau pun Madinah. Sedikit sekali untuk di dapati orang alim kecuali mereka berada di bumi Makkah atau Madinah ini. Mudah-mudahan kesudahan yang baik ialah da’wah yang telah dilakukan oleh mujaddid Muhammad bin Abd Wahab rahimahullah yang telah dikurniakan Allah kepada bumi Arab ini dan menghidupkan (tajdid) kembali agama di bumi ini”.

11. Pandangan Prof. Dr. Hafiz Wahbah di dalam “Jazirat al-Arab fi al-qarn al-‘isyrin”:

“Syeikh Muhammad bin Abd Wahab itu bukanlah nabi seperti yang diangap oleh Neibhar al-Denmarki, tetapi dia adalah seorang refosmis dan mujaddid yang menyeru supaya kembali kepada agama yang benar. Syeikh Muhammad tidak mempunyai ajarannya yang khas, tidak juga pendapatnya yang tersendiri tetapi setiap apa yang diamalkan di bumi

Najd

itu apa yang telah dilakukan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, dan di dalam perkara aqidah pula dia mengikuti fahaman yang telah dibawa oleh golongan salaf soleh dan menentang sesiapa yang bercanggah dengannya. Pegangan aqidah dan ibadah yang mereka paraktikkan adalah sama seperti mana yang ditulis oleh Ibn Taimiyah dan anak-anak muridnya di dalam kitab-kitab mereka…”

Sisi Gelap

Friday, June 9th, 2006

JAWAPAN DARI WEBSITE JAKIM

Wali Qutb, Abdal, Awtad, Nujaba’, Rijal al-Ghaib Dan Rijal Allah

Oleh:

Prof. Dr. Abdulfatah Haron Ibrahim

———————————–

Pendahuluan

Kajian Tasawuf dianggap tidak lengkap tanpa menyentuh fikrah Wali Qutb, Abdal, Awtad, Nujaba’, Rijal al-Ghaib dan Rijal Allah dan seumpamanya. Pengkaji terdahulu seperti Ibn Taimiyyah dan Ibn Khaldun serta pengkaji terkini seperti Abu al-’Ila ‘Afifi, Ahmad Amin dan Abu al-Wafa al-Taftazani adalah antara mereka yang menyentuh persoalan ini. Pendapat mereka akan digunakan dalam mengulas isu Wali Qutb, Abdal, Awtad, Nujaba’, Rijal al-Ghaib dan Rijal Allah.

Pandangan tentang Wali Qutb, Abdal, Awtad, Nujaba’, Rijal al-Ghaib dan Rijal Allah

1. Ibn Taimiyyah

Dalam kitabnya Fatawa, Ibn Taimiyyah telah menjelaskan pen-dapatnya iaitu: Manakala banyak nama yang disebut oleh ahli iba-dat dan orang awam seperti Ghawth di Makkah, Awtad ada empat, Qutb ada tujuh, Abdal ada 40, Nujaba’ ada 300, semuanya tiada dalam al-Qur’an. Tidak ada ma’thurah daripada Nabi s.a.w. sama ada sanad sahih atau da’if muhtamal kecuali lafaz Abdal. Menurut riwayat hadith Syami munqati’ al-isnad daripada Ali k.a.w., marfu’ kepada Nabi s.a.w. bermaksud:

Di kalangan orang Syam (Syria) ada Abdal 40 orang lelaki. Apabila mati seorang, Allah gantikan tempatnya dengan lelaki lain."

Orang Salaf tidak menyebut apa-apa (tentang Wali Qutb, Abdal, Awtad dan Nujaba’).

2. Ibn Khaldun

1. Dalam Muqaddimah Ibn Khaldun, beliau menyatakan: Orang tasawuf kebelakangan ini bercakap tentang kasyaf dan tentang apa yang ada di sebalik alam inderawi. Mereka menyatakan perkara yang samar-samar. Ramai di kalangan mereka sampai kepada doktrin hulul dan wahdat (Allah meresap dalam alam atau diri dan "jadi satu"). Golongan mereka yang terdahulu bergaul dengan Syi’ah Isma’iliyyah pelampau yang kebelakangan juga menganut fahaman hulul dan mempercayai bahawa imam-imam Syi’ah itu Allah (Allah hulul dalam diri imam-imam itu). Fahaman ini tidak ada sebelum ini. Kata-kata antara dua belah pihak ini bercampur aduk dan akidah mereka juga serupa-menyerupai. Lahirlah di kalangan orang bertasawuf doktrin Qutb ertinya ketua bagi semua arifin. Mereka menganggap makam Qutb tentang makrifat amatlah tinggi, tidak boleh ditandingi sehingga mati, lalu tempatnya itu diisi oleh seorang arif yang lain.

2. Ibn Sina juga memperkatakan perkara ini iaitu: Al-Haq yang maha agung adalah terlalu tinggi tiada tercapai dengan sama rata oleh semua mereka yang menuntutinya atau dapat melihatnya kecuali seorang sahaja dalam satu majlis bergilir-gilir. Teori Qutb (ada satu lepas satu) ini tidak boleh diterima akal dan tidak ada dalil syarak. Tetapi semata-mata satu percakapan yang ber-bentuk retorik. Inilah yang diperkatakan oleh Syi’ah Ra-fidah.

Kesimpulannya

:

1. Teori wali Qutb, Abdal, Awtad, Nujaba’… tidak ada dalil syarak kecuali Abdal dan bercanggah dengan akal yang waras. Tidak timbul di kalangan al-Salaf al-Salih.

2. Hadis Abdal ini jika sahih sekalipun, tidak boleh meliputi kesemua Wali Qutb, Awtad, Nujaba’…

3. Munculnya teori Wali Qutb, Abdal, Awtad Nujaba’

… ini adalah pengaruh daripada Syi’ah Isma’iliyah Rafidah (yang juga dikenali kemudiannya dengan nama Batiniyah).

3. Ahmad Amin

1. Ahmad Amin dalam kitabnya Dhuha al-Islam telah me-nyatakan pendapatnya: Ekoran daripada Imam Mahdi al-Muntazar, orang tasawuf berhubung rapat dengan Syi’ah. Mereka mengambil doktrin Imam Mahdi dari Syi’ah te-tapi dibalut dengan Qutb. Dari sini maka tertegaklah kerajaan khayalan dan bayangan. Maharaja kerajaan ini ialah Qutb yang tepat maksudnya dengan doktrin Imam Mahdi dalam Syi’ah. Qutb inilah yang mentadbir segala urusan makhluk dalam setiap zaman. la juga tiang langit. Tanpa tiang, langit akan runtuh.

2. Selepas Qutub ialah Nujaba’ yang merupakan 12 buruj di langit. Ahmad Amin memetik daripada kitab al-Futuhaat al-Makkiyyah yang menyatakan bahawa Nujaba’ itu ada 12 Naqib dalam setiap zaman. Setiap Naqib alim dengan khasiat setiap buruj yang Allah letakkan padanya berbagai-bagai rahsia dan memberi kesan di tangan Nuqaba’ ini terletaknya segala ilmu syariat yang diturunkan oleh Allah. Mereka juga tahu segala yang terpendam di hati dan jiwa manusia, tahu apa ada pada iblis sedangkan iblis sendiri tidak tahu. Apabila seseorang itu melangkah di bumi ini, Nuqaba’ tahu sama ada langkah itu baik atau sial.

3. Ahmad Amin berpendapat: Kaum Sufi membangunkan kerajaan batin di sebalik kerajaan zahir ini. Mereka mengambil fikrah Mahdiyah (Imam Mahdi) lalu diubah lafaznya (kepada Qutb, Nujaba’) serta mengemaskan susunannya. Semuanya mengawan di alam khayalan dan berlari mengejar bayangan. Semuanya adalah madah syair, tetapi bukan yang indah selesa tetapi merosakkan akidah dan amalan manusia. Jauh menyeleweng daripada akal fikiran yang waras dalam menjalankan pen-carian hidup seharian. Mereka tidak lagi melancarkan reformasi masyarakat dan menegakkan keadilan. Mereka merayau di perlembahan khayal. Pemerintah juga merayau dalam perlembahan korup. Seolah-olah mereka senang dengan keadaan begitu. Pemerintah jadi rosak, rakyat hidup dalam impian dan bangsa menjadi porak-peranda.

Kesimpulannya

1. Golongan tasawuf bercampur dengan Syi’ah Isma’iliyyah lalu mengambil doktrin Ketuhanan Imam atau Mahdiyah mereka dengan mengubah lafaznya sahaja daripada Imam Mahdi kepada Qutb.

2. Tegaklah kerajaan khayalan yang bercanggah dengan alam kenyataan. Maharaja atau presiden kerajaan ini bergelar Qutb. Allah hulul dalam Qutb ini, maksum, tahu segala perkara ghaib, tidak bersalah atau terlupa sama seperti doktrin Imam atau Imam Mahdi al-Muntazar dalam akidah Syi’ah.

Ringkas-nya idea Qutb dengan Imam atau Imam Mahdi adalah sama.

3.Ada 12 Naqib menepati dengan 12 buruj. Setiap Naqib itu tahu segala-galanya. Jelaslah di sini bahawa Ibn- ‘Arabi percayakan ilmu astrologi.

iv. Dalam kitab Zahar al-Islam, Ahmad Amin menjelaskan: Kita patut ingat, antara ajaran tasawuf yang paling pokok yang mempengaruhi umat Islam ialah mengenai doktrin Qutb. Kata mereka: Qutb adalah insan tunggal yang menjadi tempat Allah menilik kepadanya dalam setiap zaman. Segala ehwal makhluk berputar padanya. Qutb meresap ke dalam seluruh batin alam semesta sebagaimana roh meresap ke dalam jasad. Dia meniupkan roh hayat ke seluruh alam semesta atasan dan bawahan. Peranannya ialah menjaga dan memelihara alam maya ini. Begitulah tugas Qutb sehingga dia mati lalu tempatnya diisi oleh salah seorang daripada tiga orang wali berpangkat Awtad yang sebelum itu berpangkat Abdal se-ramai 40 orang.

v. Qutb ini juga digelar Ghawth kerana dia adalah tempat orang yang bernasib malang datang mengadu. Qutb ini juga dinamakan Qutb al-Aqtab kerana adanya dahulu bersama dengan ada Qutb-qutb lain di alam nyata dan alam ghaib. Ini bererti Qutb itu tidak mengambil pangkat ini daripada Qutb terdahulu dan tidak mempusakai

kepada Qutb terkemudian. Ini bererti Qutb itu adalah satu iaitu Haqiqah Muhammadiyyah.

Kesimpulannya

1. Allah menilik hal ehwal alam ini pada seorang insan bergelar Qutb.

2. Semua hal ehwal makhluk berputar di sekitar Qutb.

3. Qutb menyerap ke dalam alam semesta seperti roh dalam jasad.

4. Qutb ialah Haqiqah Muhammadiyyah (yang digelar juga Nur Muhammad. Daripadanyalah terjadi seluruh alam semesta ini atau Insan Kamil. Semuanya ini lahir dari Martabat Wahdah atau Ta’yyun Awal dalam perbilangan Wahdat-al-Wujud Martabat Tujuh).

4. Abu al-Wafa al-Taftazani

Pendapat beliau tentang perkara ini dalam kitabnya Madkhal Ha al-Tasawuf al-Islami boleh disimpulkan seperti berikut;

1. Ekoran daripada al-Hallaj mengatakan, Allah hulul, (menempat) dalam dirinya, maka Nur Muhammad pun ikut sama dikatakan qadim. Inilah punca yang mendorong kaum sufi kebelakangan yang berfalsafah menimbulkan teori Qutb atau Insan Kamil atau Haqiqah Muhammadiyyah.

2. Falsafah tasawuf ini menjadi sasaran kritik fuqaha’ ke-rana mereka menegakkan doktrin wahdat-al-wujud, teori Qutb, kesatuan semua agama yang semuanya ini bercanggah dengan Akidah Islamiah.

3. Antara penganut wahdat-al-wujud ialah pengikut Ibn ‘Arabi, al-Jili. Dialah yang memperkenalkan teori Insan Kamil atau kalimah Ilahiyah. Doktrin ini adalah sama maksudnya dengan teori al-Hallaj yang mengatakan Nur Muhammad itu qadim dan teori Qutb Ibn ‘Arabi.

4. Ibn al-Farid juga mengatakan bahawa Qutb itu tidak lain daripada roh Muhammadi, atau Haqiqah Muhammadiyyah yang menjadi sumber segala ilmu dan makrifat bagi para nabi dan Qutb-qutb.

5. Kemungkinan besar bahawa punca Roh Muhammadi atau Qutb ini datang daripada akidah bangsa Iran purba yang dikenali dalam Islam dengan nama Majusi atau Zaradistiyah.

5. Abu al-’Ila ‘Afifi

1. Haqiqah Muhammadiyyah ialah tidak lain daripada Qutb namanya bagi orang tasawuf dan imam maksum nama-nya bagi Syi’ah Isma’iliyyah dan Qaramitah. Khatam al-auliya’ seorang sahaja yang menjadi pewaris ilmu batin yang dia terima secara langsung dan Roh Muhammadi yang biasanya digelar Qutb oleh orang sufi. la bukan Na-bi Muhammad yang lahir di Makkah dan wafat di Ma-dinah, tetapi Satu Hakikat Yang Qadim yang menepati teori al-’Aql al-Awal bagi Plato dan al-Kalimah bagi orang Kristian.

2. Orang tasawuf membangunkan sebuah kerajaan di alam khayalan dan di alam awangan dan impian kosong se-mata-mata. Tidak berjejak di alam nyata dan menyalahi al-Qur’an dan Sunnah serta akal yang waras. Maharaja kerajaan khayalan ini bergelar Qutb. Di bawah Maharaja Qutb ini bergelar Awtad ada empat, Abdal ada 40, Nu-jaba’ ada 300. Penyeru atau mereka yang bertawassul dengan Qutb ini biasanya terdiri daripada orang sufi. Ada menyerunya dengan bermacam-macam nama dan bunyi seperti;

1. Maksud fikrah Qutb tidak lain tidak bukan daripada Akidah Imamah atau Imam Mahdi al-Muntazar yang me-rupakan hululiyah Allah (Allah ada dalam dirinya) sebab itulah dia maksum.

2. Nama lain bagi Qutb atau nama-nama yang sama mak-sudnya dengan Qutb ialah seperti Haqiqah Muhammadiyyah, Nur Muhammad, Insan Kamil, al-’Aql al-Awal dan al-Kalimah. Kesemuanya tidak lain dari fikrah wah-dat al-wujud.

Contoh Amalan

Menyeru dan memohon pertolongan daripada Qutb dan yang berpangkat bawahan daripadanya. Antara lain berlagu nasyid seperti ini:

http://www.faziliaton.com/iqra’/buku6/gambar/01_41.gif

Nasyid ini dikatakan dikarang oleh Ali Zainal Abidin ibn al-Husain bin Ali bin Abu Talib. Nama-nama ini jelas menunjukkan mereka bergelar Imam di kalangan Syi’ah. Di sini dapat difahami ianya berasal daripada Syi’ah.

Cara memberi salam kepada Qutb al-Aqtab yang berbunyi:

http://www.faziliaton.com/iqra’/buku6/gambar/02_41.gif

Cara memberi salam kepada Rijal al-Ghaib;

http://www.faziliaton.com/iqra’/buku6/gambar/03_41.gif

Maksud petikan ini antara lain

1. Menyeru Qutb al-Aqtab kerana dialah pemerintah zaman dan imam tempatan, penegak perintah Tuhan, Pewaris kitab, Pengganti Rasulullah, kesemua yang ada dalam masanya adalah keluarganya. Dialah juga penurun hujan dengan doanya.

ii. Memberi salam kepada Rijal al-Ghaib (lelaki yang tidak boleh dilihat), juga dia bergelar Arwah al-Muqaddasah, hai Nuquba’, hai Nujaba’, hai Ruqaba’, hai Budala’, hai Awtad al-Ardhi al-Arba’ah (pasak bumi yang empat), hai dua imam, hai Fard, hai Umana’, tolongilah aku dengan pertolongan, lihatlah akan daku dengan penuh kasihan. Sampaikanlah hajatku dan tu-juanku.

iii. Ucap selawat kepada Khidir.

Kesimpulan

Konsep Wali Qutb, Abdal, Awtad, Nujaba’, Rijal al-Ghaib dan Rijal Allah adalah bersumberkan fikrah Wahdat al-Wujud. Konsep berkenaan tidak terdapat dalam al-Qur’an dan Sunnah. Tidak pernah timbul di kalangan al-Salaf al-Salih kecuali Abdal. Wa-lau bagaimanapun Abdal sahaja tidak dapat menolong menegakkan kebenaran akidah hirarki wali-wali dalam kepercayaan tasawuf ini.

Fikrah Qutub adalah pengaruh daripada fikrah Imamah Syi’ah. Dalam diri imam Syi’ah hulul Allah, dengan Haqiqah Muhammad-iyyah, Nur Muhammad, Insan Kamil, al-’Aql al-Awal bagi Plato dan al-Kalimah bagi Kristian. Semuanya adalah perkara yang sama ke-rana semuanya itu terbit daripada zat Allah.

Fikrah Wahdat al-Wujud ini bercanggah dengan Ithnaniyah al-Wujud pegangan Ahli Sunnah. Doktrin Wali Qutb, Abdal, Awtad, Nujaba’, Rijal al-Ghaib dan Rijal Allah ini adalah merosakkan akidah.

Menyeru, memohon pertolongan, minta sampaikan hajat bertawassul dan memberi salam kepada Wali Qutb, Abdal, Awtad, Nujaba’, Rijal al-Ghaib dan Rijal Allah, adalah menyeru kepada hakikat yang tidak nyata malah hanya kosong dan dalam khayal-an. la hanya merupakan Imam menurut fahaman Syiah atau Imam Mahdi.

Penutup

Hakikat Wali Qutub, Abdal, Awtad, Nujaba’, Rijal al-Ghaib dan Rijal Allah sebenarnya tidak wujud dalam Islam yang berdasarkan al-Qur’an, al-Sunnah dan al-Salaf al-Salih, tetapi berasal daripada fahaman Syiah. Pengertian Qutb juga sama dengan Haqiqah Muhammadiyyah, Nur Muhammad, Insan Kamil dan Roh Muhammadi. la juga bersamaan dengan al-’Aql al-Awal bagi Plato dan al-Kalimah dalam Kristian.

_____________________

* Sanad kepada AH ini mencerminkan ada hubungan antara tasawuf dengan Syi’ah (tasyayyu’) - Penulis.

: : :

selangkah menuju tesis sarjanaku

Friday, June 9th, 2006

Maulid al-Rasul: Bukan Sekadar Perarakan

Oleh: Abd al-Razzaq b. Abd Muthalib

Kuliyyah Ilmu Wahyu, UIA.

Setiap kali tibanya Rabi’ al-awal, pastinya peristiwa agung kelahiran Muhammad saw akan menjadi ingatan di setiap hati seorang mukmin. Peristiwa ini merupakan noktah permulaan dalam sejarah Islam. Di sinilah bermulanya sinar cahaya Islam yang memadam api-api jahiliyyah dan ianya terus bersinar menyinari seluruh alam hingga ke hari ini. Risalah yang dibawa oleh insan mulia ini merupakan risalah terakhir yang hanyasanya diakui dan dijamin oleh Allah swt akan kebenarannya. Maka beruntunglah sesiapa yang diberikan peluang untuk berada di bawah naungan cahayanya. Firman Allah swt yang bermaksud: “Sesungguhnya hanyasanya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam” (Ali Imran: 19). Di dalam ayat yang lain, Allah swt berfirman yang bermaksud: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kamu agamamu, dan telah aku lengkapkan ke atas kamu nikmat-Ku, dan telah Aku redha Islam sebagai agamamu” (al-Maidah:3)

Tidak dapat dinafikan bahawa nikmat Islam yang dikecapi sekarang ini adalah hasil perjuangan gigih yang penuh cabaran dan ujian yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para golongan yang terdahulu. Jasa besar oleh insan mulia ini tidak sepatutnya dilupakan begitu sahaja. Apatah lagi oleh mereka yang mengaku sebagai umat Muhammad saw. Maka pelbagai cara dilakukan dan diamalkan dalam usaha untuk menterjemahkan rasa cinta dan kasih kepada Rasulullah saw, terutamanya bersempena dengan bulan kelahiran Baginda ini.

Tanggal 12 Rabi’ al-awal, pelbagai sambutan dan perayaan diadakan demi mengingati kembali tarikh kelahiran Nabi Muhammad saw. Di sesetengah tempat, pada tanggal ini diadakan majlis secara besar-besaran, walau pun terdapat percanggahan pendapat di kalangan ulamak tentang tarikh yang tepat kelahiran Rasulullah saw. Yang mashur dan tersebar dikalangan umat Islam ialah pada 12 Rabi’ al-awal. Pendapat lain menyatakan bahawa tarikh yang tepat bagi kelahiran Rasulullah saw ialah pada 9 Rabi’ al-awal tahun gajah, hari Isnin dan bersamaan dengan 20 atau 22 April 571 Masihi. (Lihat: al-Mubarakfuri, Safiy al-Rahman, al-Rahiq al-Makhtum (al-Mansurah: Dar al-wafa’, cet. 2, 2000), hal. 71). Namun begitu, perbezaan tarikh ini bukanlah menjadi persoalan utama. Apa yang penting ialah masing-masing telah berusaha untuk menunjukkan rasa cinta dan kasih kepada Rasulullah saw dan ianya diterjemahkan dengan cara mengadakan sambutan ini. Masing-masing melakukannya tidak dengan tujuan lain kecuali untuk tujuan kebaikan dan mendapat balasan daripada Allah swt.

Sesungguhnya tidak diragukan lagi bahawa perasaan kasih dan sayang kepada junjungan mulia Muhammad saw wujud di dalam sanubari setiap individu Muslim yang sempurna imannya. Namun, adakah ianya sama dengan perasaan kasih dan sayang seperti yang telah ditunjukkan oleh para sahabat Baginda. Tidak syak lagi, para sahabat r.a adalah golongan yang paling mencintai dan menyayangi Baginda saw. Kecintaan dan kasih sayang mereka kepada Rasulullah saw telah dibuktikan. Mereka sangggup berkorban apa sahaja demi mentaati Rasulullah saw. Senang dan duka dikongsi bersama. Dugaan dan rintangan diharungi semua. Harta dan nyawa menjadi infaq utama. Golongan inilah yang telah diberi pengiktirafan oleh Rasulullah saw sebagai golongan yang terbaik. Sabda Rasulullah saw yang bermaksud: “Sebaik-baik manusia adalah yang berada di kurunku (para sahabat), kemudian yang menyusuli mereka (para tabiin), kemudian yang menyusuli mereka (tabi’ al-tabiin)” (Riwayat al-Bukhari, Kitab al-Syahadat, hadis no. 2652)

Golongan yang paling mengasihi dan menyayangi Rasulullah saw ini juga telah menunjukkan contoh teladan bagaimana mereka menterjemahkan kasih sayang mereka itu, samada ketika hayat Rasulullah saw mahu pun setelah Baginda saw wafat. Justeru, adalah menjadi tugas kita untuk menyemak kembali adakah amalan yang kita lakukan sekarang ini dengan tujuan menzahirkan kecintaan kepada Rasulullah saw sama seperti yang telah ditunjukkan oleh para sahabat Baginda saw. Sekiranya ia bertepatan, maka teruskanlah dan sebarkanlah. Tetapi jika ia adalah sebaliknya, maka adalah lebih baik dan utama untuk diberhentikan. Jadikanlah para sahabat Baginda saw ini sebagai golongan teladan. Ianya akan pasti membawa kita ke jalan kebenaran.

Para ulamak juga telah banyak membicarakan tentang perayaan maulid al-rasul ini. Antaranya ialah Syiekh al-Islam Ibn Taimiyyah di dalam "Iqtidha’ al-Sirat al-Mustaqim", al-Imam al-Syatibi di dalam "al-I’tisam", Ibn al-Haj di dalam "al-Madkhal", al-Syiekh Muhamad Basyir al-Hindi di dalam "Siyanat al-Insan". Selain itu terdapat juga para ulamak yang menulis kitab yang khas dalam membincangkan persoalan ini seperti al-Sayyid Rashid Redha, al-Syiekh Muhamad Ibrahim Ali al-Syiekh, al-Syiekh Abd al-Aziz Ibn Baaz dan ramai lagi. Maka bagi yang inginkan maklumat lanjut dan berkemampuan, bolehlah merujuk kitab-kitab mereka dan lihatlah apakah pandangan dan hukum Islam berkenaan dengan perayaan maulid al-rasul ini. Cinta dan ikuti Nabi saw (al-mahabbah wa al-ittiba’) Dua perkara asas yang mesti diberi perhatian di dalam membicarakan hubungan Muslim terhadap Rasulullah saw adalah al-mahabbah (cinta) dan al-ittiba’ (ikut). Kedua-dua elemen ini mesti wujud secara beriringan di dalam diri Muslim. Tidak cukup untuk seseorang menyatakan perasaan cintanya terhadap Rasulullah saw tanpa mengikuti sunnah Baginda saw.

Begitu juga sebaliknya jika seseorang itu mengikuti ajaran Nabi saw tanpa ada perasaan kasih dan sayang kepada Baginda. Sejarah Islam telah membuktikan kewujudan dua golongan ini. Pertama, Abu Talib yang merupakan bapa saudara Rasulullah saw adalah antara mereka yang paling mencintai Muhammad saw. Abu Talib pernah memelihara Nabi saw setelah kematian ibu bapa Baginda saw. Dialah juga antara peribadi penting yang telah mempertahankan Baginda saw daripada ancaman kafir Quraish semasa menyebarkan dakwah Islam. Namun, sayang sekali, walau begitu tinggi kasih sayang Abu Talib kepada anak saudaranya, namun ianya tidak diiringi dengan mengikuti ajaran yang dibawa olehnya. Maka natijahnya, Abu Talib tetap termasuk di dalam golongan mereka yang tidak beriman.

Kedua: Abdullah bin Ubai bin Salul yang merupakan ketua golongan munafiq. Secara zahir, dia adalah pengikut Nabi saw. Namun, ikutannya ini tidak disertai dengan perasaan kasih dan sayang kepada Baginda saw. Sebaliknya mempunyai muslihat jahat dalam menghancurkan dakwah Nabi saw. Tindakan munafiq ini adalah natijah daripada tiadanya perasaan kasih sayang di dalam diri terhadap Rasulullah saw. Justeru, al-mahabbah dan al-ittiba’ ini mesti digandingkan dan wujud selari demi memastikan kesempurnaan iman kita terhadap Rasulullah saw.

Al-Mahabbah

Al-Qadhi I’yadh telah mentakrifkan al-mahabbah ini sebagai kecenderungan insan terhadap apa yang disukainya seperti menyukai gambar yang cantik, suara yang merdu, makanan yang sedap dan sebagainya yang manusia secara fitrah akan sukakannya. Atau ia juga berlaku dengan menyukai orang-orang yang soleh dan para ulamak dan mereka yang membuat baik, yang mana hati manusia berkeinginan untuk mencontohi mereka. Atau ia boleh berlaku dalam bentuk seseorang itu menyukai orang yang telah melakukan kebaikan terhadapnya. Maka paksi kepada perasaan al-mahabbah ini adalah hati. Maka apa-apa yang bertepatan dengan kehendak hati, maka manusia akan cenderung ke arah itu dan menyukainya. Setiap perkara yang tidak bertepatan dengan kehendak hati, manusia akan menjauhkan diri daripadanya dan membencinya.

Al-Imam al-Nawawi di dalam merumuskan pendapat al-Qadhi I’yadh tentang al-Mahabbah ini menyatakan bahawa: ((Maka asal al-mahabbah ini adalah kecenderungan insan kepada apa yang bertepatan dengan kehendaknya, dan ianya berlaku terhadap perkara yang disukai dan dianggap baik oleh manusia seperti gambar cantik, suara merdu, makanan sedap dan sebagainya, dan ianya juga berlaku melalui aqal bagi perkara yang bukan secara zahir seperti mencintai orang soleh dan para ulamak dan mereka yang mempunyai kelebihan, dan ia juga berlaku disebabkan kebaikan yang telah dilakukan kepadanya, menolak kemudharatan dan perkara yang dibenci daripadanya.

Semua unsur-unsur ini wujud pada diri Rasulullah saw, bila mana pada diri Baginda saw itu terhimpun kecantikan zahir dan batin, dan kesempurnaan segala kebaikan dan kelebihan, serta kebaikan yang dilakukannya kepada seluruh umat Islam dengan memberikan petunjuk hidayah ke jalan yang benar, nikmat yang berterusan dan menjauhkan mereka daripada al-Jahim (neraka)). (Rujuk: Abd al-Rauf Muhamad Uthman, Mahabat al-rasul baina al-Ittiba’ wa al-ibtida’ (al-Riyadh: Ria’sah Idarah al-Buhuth al-Ilmiah, Cet. 2, 1414 h), hal. 32) Maka kecintaan kepada Rasulullah saw ini adalah kecenderungan hati mukmin kepada Rasulullah saw dengan menampakkan kecintaan kepada Baginda melebihi kecintaan kepada manusia lain. Ia merupakan perkara asas dalam menentukan kesempurnaan iman.

Terdapat banyak dalil daripada al-Quran dan al-Sunnah yang membicarakan tentang persoalan cinta kepada Rasulullah saw. Antaranya ialah: Maksudnya: “Katakanlah (wahai Muhammad): “JIka bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri kamu, dan kaum keluarga kamu, dan harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, (jika semuanya itu) menjadi perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad untuk agama-Nya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab seksa); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq” . (Al-Taubah: 24) Di dalam ayat yang lain, Allah swt berfirman yang bermaksud: “Nabi itu lebih menolong dan lebih menjaga kebaikan orang-orang yang beriman daripada diri mereka sendiri”. (al-Ahzab:6) Melalui ayat ini dijelaskan tentang kedudukan Rasulullah saw di antara golongan mukmin. Ia juga menjelaskan tentang kewajipan yang sepatutnya dilakukan oleh orang beriman terhadap Rasulullah dengan meletakkan kecintaan kepada Baginda sebagai kecintaan utama yang melebihi kecintaan kepada diri mereka sendiri. Kata al-Imam Ibn al-Qayyim bahawa ayat ini menjadi dalil bahawa sesiapa yang tidak menjadikan Rasul sebagai yang lebih diutamakan melebihi dirinya sendiri, maka bukan dari golongan orang yang beriman (tidak sempurna imannya).

Selain itu, terdapat banyak hadith-hadith yang menguatkan lagi perkara ini. Antaranya ialah: Daripada Abu Hurairah r.a, bahawa Rasulullah saw bersabda bermaksud: “Demi yang diriku ditangan-Nya, tidak beriman (sempurna iman) dikalangan kamu sehingga Aku lebih dicintainya melebihi ayah dan anaknya” (Riwayat al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab: Hub al-Rasul min al-Iman, no. 14) Dalam hadith lain yang diriwayatkan daripada Anas bin Malik, bahawa Rasulullah saw bersabda yang bermaksud: “Tidak beriman dikalangan kamu sehinggalah aku lebih dicintainya melebihi ayahnya, anaknya dan manusia sekeliannya” (Riwayat al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab: Hub al-Rasul min al-Iman & Muslim, Kitab al-Iman, Bab: Wujub Mahabat al-Rasul) Dua hadith ini jelas menunjukkan kewajipan mencintai Rasulullah saw dan seseorang itu tidak akan sempurna imannya kecuali dengan mencintai Baginda melebihi cinta kepada orang lain. Ia juga menggambarkan bagaimana hubungan yang erat diantara iman dan al-mahabbah kepada Rasulullah saw. Inilah hakikat keimanan yang sebenar.

Dijelaskan pula di dalam hadith lain yang bermaksud: Daripada Anas bahawa Nabi saw bersabda: “Tiga perkara yang sesiapa memilikinya akan mendapat kemanisan iman: menjadikan Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya melebihi yang lain…” (Riwayat al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab: Halawat al-Iman & Muslim, KItab al-Iman, Bab: Bayan Khisal man ittasafa bihinna wajada halawat al-iman).

Bagaimana menambahkan cinta kepada Rasulullah saw Perasaan cinta dan kasih kepada Rasulullah saw boleh disemai dengan melakukan beberapa perkara dibawah:

1) Mengenali dan mengingati peribadi Rasulullah saw Dari sudut ini, maka benarlah pepatah Melayu yang menyebut bahawa “Tak kenal maka tak cinta”. Seseorang Muslim yang ingin menambahkan kecintaannya kepada Rasulullah saw mestilah mengenali peribadi Baginda secara lebih mendalam. Semakin dalam kita mengenali Rasulullah saw dari segi akhlaknya, cara hidupnya, cabaran yang dihadapinya, perjuangannya dan segala-galanya yang berkaitan dengan Baginda, maka semakin bertambahlah cinta dan kasih kita kepada Rasulullah saw. Untuk tujuan ini, bacaan dan kajian terhadap sirah hidup Baginda perlu dilakukan melalui sumber-sumber bacaan sirah yang sahih.

2) Berdiri di atas petunjuk Nabi saw dan mengamalkan sunnah-sunnah Baginda. Setiap Muslim mestilah menjadikan petunjuk yang dibawa oleh Nabi saw sebagai panduan dalam hidupnya. Dalam setiap apa jua perkara dalam urusan agama, maka panduan dan petunjuk yang dibawa oleh Nabi saw mestilah diletakkan di hadapan. Seterusnya, senantiasa berusaha untuk mengikuti sunnah Baginda saw dalam segala tingkah laku dan perkataan. Jika tidak dapat diamalkan semua, maka janganlah ditinggalkan semuanya.

3) Mengetahui nikmat Allah yang dikurniakan kepada kita melalui pengutusan Rasulullah saw. Antara pengurnian nikmat Allah yang terbesar ialah pengutusan Rasulullah saw itu sendiri kepada umat ini. Rasulullah saw yang diutuskan ini diberikan panduan wahyu kepadanya. Maka dengan pengutusan Rasul yang dibekalkan dengan wahyu, umat Islam dapat menerima hidayah Islam yang sebenar, seterusnya dengan hidayah ini kita dapat mebezakan antara yang haq dan batil dan sekaligus dapat menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat; jika petunjuk ini ditaati. Firman Allah swt bermaksud: “Wahai ahli Kitab! Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami (Muhammad saw) dengan menerangkan kepada kamu banyak dari (keterangan-keterangan dan hukum) yang telah kamu sembunyikan dari kitab suci, dan ia memaafkan kamu (dengan tidak mendedahkan) banyak perkara (yang kamu sembunyikan). Sesungguhnya telah datang kepada kamu cahaya kebenaran (Nabi Muhammad) dari Allah, dan sebuah kitab (al-Quran) yang jelas nyata keterangannya. Dengan (al-Quran) itu Allah menunjukkan jalan-jalan keselamatan serta kesejahteraan kepada sesiapa yang mengikut keredhaanNya, dan (dengannya) Tuhan keluarkan mereka dari gelap gelita (kufur) kepada cahaya (iman) yang terang benderang, dengan izinNya; dan (dengannya juga) Tuhan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus”. (al-Maidah: 15-16)

4) Memperbanyakkan selawat ke atas Rasulullah saw. Selawat merupakan antara amalan yang paling berkesan yang dapat mengikat hati individu Muslim dengan Rasulullah saw. Firman Allah swt bermaksud: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) ke atas Nabi, wahai orang-orang yang beriman selawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya”. (al-Ahzab: 56) Penganjuran berselawat ini juga disuruh dan digalakkan melalui hadith-hadith Rasulullah saw, antaranya: Daripada Abu Hurairah, bahawa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang berselawat ke atas ku satu selawat, maka Allah swt akan berselawat ke atasnya sepuluh kali” (Riwayat Muslim, Kitab al-solat, Bab: al-salat ‘ala al-Nabiy ba’da al-tasyahud) Tanda Cinta dan Kasih kepada Rasulullah saw.

Walaupun cinta dan kasih ini merupakan satu perasaan yang wujud di dalam hati, tetapi ianya mesti digambarkan dengan tingkah laku dan kata-kata. Menzahirkan perasaan kasih dan cinta terhadap Rasulullah saw ini adalah penting untuk membezakan antara mereka yang benar-benar cinta dan mereka yang hanya mendakwa bahawa mereka cintakan Nabi saw tetapi tidak dibuktikan dengan amalan zahir.

Maka antara tanda-tanda bahawa seseorang itu benar-benar mencintai Nabi saw adalah:

1) Taat dan ikuti Rasulullah saw. Sesungguhnya tanda yang paling nyata dalam membuktikan kebenaran kasih dan cinta seseorang kepada Rasulullah saw adalah taat dan ikuti sunnah Baginda saw. Jika perkara ini tidak wujud, maka tiadalah mereka yang mendakwa cinta dan kasih kepada Rasulullah saw ini kecuali pendusta. Justeru, taat dan ikuti Rasulullah saw menjadi syarat utama dalam membenarkan dakwaan ini. Allah swt juga telah menetapkan bahawa taat dan ikuti Rasulullah saw ini merupakan tanda taat dan patuh kepada-Nya, maka ia adalah lebih utama untuk membuktikan kecintaan kepada Baginda saw sendiri. Firman Allah swt bermaksud: “Katakanlah (wahai Muhammad) Sekiranya kamu mencintai Allah, maka ikutlah aku, nescaya kamu akan dikasihi Allah dan Dia akan mengampunkan dosa-dosa kamu” (Ali Imran: 31) Al-Imam Ibn Kathir ketika menafsirkan ayat ini menyatakan bahawa: ((Ayat ini merupakan kayu ukur kepada sesiapa yang mendakwa mencintai Allah swt tetapi tidak berada di atas jalan Muhammad, bahawa sesungguhnya dia adalah dusta di dalam dakwaannya, sehinggalah dia mengikuti syariat Muhammad di dalam keseluruhan percakapan dan amalannya)) (Ibn Kathir, Tafsir al-Quran al-Azim (Damsyiq: Dar al-Fiha’, Cet. 2, 1998 ), 1/477)

2) Memuliakan Rasulullah saw dan beradab dengannya. Memuliakan Rasulullah saw bersesuaian dengan kedudukan kenabian dan kerasulan Baginda. Memuliakan Nabi saw ini berlaku dalam tiga bentuk; melalui hati, lisan dan anggota. Maka memuliakannya dengan hati ialah dengan beri’tiqad bahawa Baginda adalah rasul yang telah dipilih oleh Allah swt dan telah dimuliakan Allah berbanding dengan manusia-manusia lain. Memuliakan Baginda dengan lisan pula mengandungi puji-pujian kepadanya samada pujian yang diberikan oleh Baginda saw sendiri atau segala bentuk pujian yang diberikan Allah swt kepada baginda tanpa ada sebarang pengurangan atau penambahan yang melampau. Termasuk dalam perkara ini adalah selawat dan salam ke atas Baginda saw. Memuliakan Baginda melalui anggota pula ialah dengan taat kepada perintahnya dan mengikuti sunnahnya. Maka apa yang disukai dan dianjurkan oleh Rasulullah saw, kita turut menyukainya. Apa-apa yang dibenci dan tidak dianjurkan oleh Baginda, maka kita turut membencinya dan meninggalkannya. Kesimpulannya, memuliakan Rasulullah saw ini adalah dengan membenarkan apa yang disampaikan, mentaati apa yang diarah, menjauhi apa yang ditegah dan beribadah kepada Allah dengan apa yang disyariatkan. Memuliakan Rasulullah saw dan beradab dengan Baginda juga merupakan arahan yang terkandung di dalam al-Quran. Antara adab-adab dengan Rasulullah saw yang mesti dipatuhi oleh setiap individu Muslim ialah seperti mana yang terkandung di dalam surah al-Hujurat. Boleh dikatakan bahawa antara isi kandungan utama surah al-Hujurat ini menyebut tentang bagaimana adab seseorang Muslim dengan Rasulullah saw. Antara adab yang terkandung di dalam surah ini adalah seperti maksud ayat pertama: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (al-Hujurat: 1) Adab yang dianjurkan di dalam ayat ini ialah tidak mendahului Allah dan Rasulullah saw di dalam perkataan mahupun perbuatan, samada semasa hayat Baginda mahupun sesudah Baginda wafat iaitu dengan tidak melanggari sunnahnya.

3) Senantiasa ingat kepada Baginda saw dan mempunyai pengharapan dan rindu yang mendalam untuk melihat dan berjumpa dengannya. Sudah menjadi lumrah, seseorang itu akan sentiasa ingat kepada sesiapa yang dikasihinya. Perkara ini tidak akan wujud kecuali jika hati dan fikiran seseorang itu sentiasa didorong ke arah itu.

4) Mengasihi ahli keluarga, isteri-isteri dan para sahabat Rasulullah saw. Diantara tanda kasih dan sayangnya kita kepada Rasulullah saw ialah mencintai dan mengasihi kaum keluarganya, isteri-isteri Baginda dan para sahabat r.a. Mencintai dan mengasihi mereka ini diiringi dengan mengetahui kelebihan dan kemuliaan yang telah dikurniakan kepada mereka. Seterusnya membersihkan segala tohmahan dan fitnah yang dilemparkan kepada mereka.

5) Mencintai sunnah Rasulullah saw dan mereka yang menyeru ke arah menegakkan sunnah tersebut. Termasuk di dalam tanda-tanda mencintai Rasulullah saw ialah mencintai sunnah Baginda saw dan mereka yang berusaha menyeru manusia ke arah mengamalkan sunnah. Maka golongan yang paling awal menjalankan tugas ini ialah para al-salaf al-soleh. Mereka telah berjuang dan mencurahkan segala tenaga demi mempertahankan sunnah Rasulullah saw. Seterusnya mengasihi para ulamak yang telah menyambung perjuangan menegakkan sunnah ini di atas manhaj yang telah ditunjukkan oleh al-salaf al-soleh. Demikianlah diantara tanda-tanda yang sepatutnya dapat dilihat daripada mereka yang mengaku kasih dan cinta kepada Rasulullah saw. Semestinya perasaan cinta dan kasih kepada Baginda saw ini tidak akan dipersiakan malahan akan diberikan ganjaran yang menjadi impian setiap Muslim. Antara kelebihannya ialah seperti mana yang terdapat di dalam sebuah hadith: Daripada Anas bin Malik ra berkata: Seorang lelaki bertanya kepada Nabi saw: Bilakah akan berlakunya Qiamat, wahai Rasulullah? Nabi saw bertanya kembali: ((Apakah persediaan yang telah kamu lakukan untuk itu?)). Lelaki itu menjawab: Aku tidak mempunyai banyak persediaan dari cintakan Allah dan Rasul-Nya. Nabi saw bersabda: ((Engkau bersama dengan yang engkau cintai)) (Riwayat al-Bukhari, kitab al-Adab, bab ‘Alamat Hubbullah Azza wa jalla) Di dalam riwayat yang lain, Nabi saw bertanya: ((Apakah persediaan yang telah kamu lakukan untuk hari qiamat?)). Lelaki tersebut berkata: Tiada apa-apa persediaan kecuali aku cintakan Allah dan Rasul-Nya. Maka Nabi saw bersabda: ((Engkau bersama dengan yang engkau cintai)). Anas berkata: Tidaklah kami pernah gembira seperti gembiranya kami dengan kata-kata Nabi saw ((Engkau bersama dengan yang engkau cintai)). Anas berkata lagi: Maka aku cintakan Nabi saw, Abu Bakr dan Umar, dan aku berharap akan bersama dengan mereka disebabkab cintaku kepada mereka, walaupun aku tidak mempunyai amalan seperti amalan mereka. (Riwayat al-Bukhari, kitab Fadhail al-Sahabat, Bab Manaqib Umar al-Khattab)

Al-Ittiba’

Secara ringkasnya, al-ittiba’ yang dimaksudkan disini ialah mengikuti dan mencontohi Rasulullah saw dari segenap aspek. Abu al-Hussain al-Basri di dalam “al-Mu’tamad” telah menghuraikan tentang perkara ini dengan menyatakan: ((Adapun mencontohi Nabi saw berlaku samaada dalam bentuk melakukan atau meninggalkan.. Mencontohi Nabi saw dengan turut melakukannya ialah dengan kita melakukan sesuatu perkara itu sama seperti mana yang dilakukan oleh Nabi saw. Manakala mencontohi Baginda saw dengan meninggalkannya ialah kita meninggalkan apa-apa perkara seperti mana yang ditinggalkan oleh Nabi saw. Dan sesungguhnya kami mensyaratkan perbuatan itu berlaku dalam bentuk yang sama, kerana jika sekiranya Nabi saw berpuasa dan kita bersolat, maka ia tidak dinamakan mencontohi Baginda saw….Dan kami mengatakan bahawa mencontohi Baginda juga berlaku dalam bentuk meninggalkan sesuatu perkara, kerana jika sekiranya Baginda saw meninggalkan (tidak menunaikan) sembahyang ketika terbitnya matahari, maka kita juga turut meninggalkannya di atas dasar mencontohi Baginda saw. ….Adapun mengikuti Nabi saw berlaku dari segi perkataan, dan dalam bentuk perlakuan dan dalam bentuk peninggalan.

Maka mengikuti perkataan Baginda saw ialah kita berusaha untuk melaksanakan kandungan perkataan tersebut sama ada dalam bentuk wajib, sunat atau sebagainya. Dan adapun mengikuti Baginda saw dalam bentuk turut melakukannya atau meninggalkannya ialah dengan kita melakukan sesuatu perkara atau meninggalkan sesuatu perkara sama seperti yang dilakukan oleh Baginda saw…dan sesungguhnya kami mensyaratkan di dalam mengikut ini sama dengan mencontohi, kerana jika sekiranya Baginda saw berpuasa dan kita bersembahyang, atau Baginda saw berpuasa fardhu tetapi kita berpuasa sunat, atau kita berpuasa bukan disebabkan Baginda berpuasa, maka kita tidak dinamakan sebagai orang yang mengikuti Nabi saw di dalam perkara ini)) (Rujuk: Abd al-Rauf Muhamad Uthman, Mahabat al-rasul baina al-Ittiba’ wa al-ibtida’ , hal. 103)

Maka daripada huraian di atas dapat dibuat kesimpulan ringkas bahawa yang dikatakan al-ittiba’ dengan Rasulullah saw dalam bentuk perbuatan ialah kita melaksanakan apa-apa yang dilakukan oleh Baginda saw dalam bentuk yang sama. Manakala al-ittiba’ dengan kata-kata Rasulullah saw ialah kita melaksanakan tuntutan yang terkandung di dalam perkataan Baginda saw tersebut.

Segala amalan yang dilakukan ini mestilah berpaksikan di atas niat mahu mengikuti dan mencontohi Rasulullah saw. Kewajipan mengikuti dan mentaati Rasulullah saw ini sebenarnya adalah perintah daripada Allah swt sendiri. Maka di antara tanda seseorang itu mentaati Allah swt ialah dia mentaati dan mencontohi pesuruh Allah, Muhammad saw. Di antara firman Allah swt yang mengandungi arahan ini ialah seperti maksud ayat berikut: “Wahai orang-orang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan Rasul, dan janganlah kamu batalkan amalan kamu” (Muhammad: 33) “Taatilah Allah dan Rasul, mudah-mudahan kamu akan dirahmati” (Ali Imran: 132) Tanda al-ittiba’.

Sesungguhnya perkara mencontohi dan mengikuti Rasulullah saw ini bukanlah suatu yang hanya menjadi sebutan di mulut sahaja. Tetapi seseorang yang mendakwa mencontohi dan mengikuti Nabi saw dengan sebenar-benar ikutan, pasti akan lahir daripadanya tanda-tanda dan kesan yang membuktikan dakwaan tersebut.

Maka antara tanda-tanda al-ittiba’ ini ialah:

1. Menjadikan Rasulullah saw sebagai contoh ikutan. Seseorang yang mendakwa mencontohi dan mengikuti Nabi saw mestilah menjadikan Baginda saw sebagai panduan dan contoh ikutannya. Maka dia melakukan arahan dan amalan yang dilakukan oleh Rasulullah saw sama seperti dia meninggalkan segala larangan dan perkara yang ditinggalkan oleh Baginda saw. Termasuk juga di dalam perkara ini ialah seseorang itu mestilah berakhlak dan beradab dengan akhlak yang dianjurkan oleh Baginda saw. Allah swt berfirman yang bermaksud: “Demi sesungguhnya adalah bagi kamu pada diri Rasulullah saw itu contoh ikutan yang baik, iaitu bagi sesiapa yang sentiasa mengharapkan (keredahaan) Allah dan (balasan baik) hari Akhirat serta mengingati Allah dengan sebanyak-banyaknya (dalam masa susah dan senang)” . (al-Ahzab: 21) Al-Hafiz Ibn Kathir ketika menafsirkan ayat ini menyatakan: ((Ayat ini merupakan asas yang utama di dalam mencontohi Nabi saw dari segi perkataannya, perbuatanya dan segala perkara yang berkaitan dengan Baginda. Dan untuk itu, Allah swt telah memerintahkan manusia di hari peperangan Ahzab supaya mencontohi Nabi saw dari segi kesabarannya, mujahadahnya, dan penantiannya kepada kelapangan (kemenangan) daripada Allah swt. Selawat dan salam ke atasnya yang berterusan hingga ke hari Akhirat. Dan disebabkan itu, Allah berkata kepada mereka-mereka yang gentar dan tidak tetap pendirian mereka pada hari peperangan Ahzab: ((Sesungguhnya adalah bagi kamu pada diri Rasulullah saw itu contoh ikutan yang baik)) iaitu hendaklah kamu mencontohi Baginda saw dengan sepenuhnya)) (Ibn Kathir, Tafsir al-Quran al-‘Azim, 3/626) Justeru, bagi mereka yang ingin membuktikan kecintaan dan ikutan mereka kepada Rasulullah saw haruslah terlebih dahulu mengetahui dan mempelajari tentang petunjuk dan sunnah Rasulullah saw. Hal ini penting bagi mengelakkan kita terjerumus di dalam penyakit al-ghulu (melampaui batas) dan al-bid’ah di dalam mengagung-agungkan Rasulullah saw. Tanpa ilmu pengetahuan yang sahih, ramai manusia telah dijangkiti penyakit ini. Oleh itu kembalilah kita kepada petunjuk al-Quran dan al-Sunnah.

2.Menjadikan sunnah Rasulullah saw sebagai pemutus segala hukum. Perkara ini merupakan di antara ciri-ciri penting bagi membuktikan keimanan seorang Muslim. Sunnah Baginda saw semestinya dijadikan sumber bagi penentuan segala hukum bagi segala masalah yang berlaku di kalangan manusia. Maka setiap pendapat atau keputusan yang bercanggah dengan penentuan sunnah Baginda saw, hendaklah ditolak, walau dari mana dan daripada sesiapa sekali pun munculnya pendapat itu. Allah swt menegaskan di dalam firmannya yang bermaksud: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan uli al-amri (orang yang berkuasa) di kalangan kamu, maka sekira kamu berselisihan pendapat di dalam sesuatu perkara, maka kembalikanlah (rujuklah) ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhirat , maka yang demikian itu lebih baik bagi kamu dan lebih elok pula kesudahannya” (al-Nisaa’: 59) Sesiapa yang mengambil petunjuk daripada ayat ini iaitu dengan menjadikan al-Quran dan al-Sunnah sebagai tempat rujukan bagi segala permasalahan, maka ia akan sentiasa berada di atas jalan yang mustaqim, sekaligus membuktikan bahawa dia melalui landasan al-ittiba’ yang sebenar. Di dalam ayat yang lain, Allah swt menyatakan yang bermaksud: “Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad), tidaklah beriman mereka itu sehinggalah mereka menjadikan dirimu (wahai Muhammad) sebagai hakim di dalam (memutuskan) segala perselisihan yang berlegar di antara mereka, kemudian tidak pula timbul sebarang perasaan berat hati di dalam diri mereka terhadap apa yang telah kamu putuskan, dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya” (al-Nisaa’: 65) Dalam perkara ini, maka para sahabatlah r.a yang merupakan contoh kita yang terbaik. Mereka telah menjadikan Rasulullah saw sebagai pemutus segala perkara yang berlaku di kalangan mereka. Hal ini berlaku sewaktu hayat Baginda saw. Selepas kewafatan Nabi saw, mereka menjadikan sunnah yang ditinggalkannya sebagai pengganti dan dijadikan sumber rujukan.

3. Redha dengan hukum dan syariat yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Di antara tanda seseorang taat kepada Rasul, dia mestilah redha dengan hukum dan syariat yang dibawa oleh Baginda saw. Ini juga sebenarnya merupakan tanda kepada ketaatan kepada Allah swt. Maka apabila seseorang itu redha dengan syariat dan peraturan yang dibawa oleh Rasulullah saw, dia akan menerimanya dengan hati yang terbuka tanpa ada sebarang syak dan ragu terhadap perkara tersebut. Jika wujud keraguan walau pun sedikit, ini bermakna dakwaan cinta dan ikutannya terhadap Nabi saw belum lagi sempurna. Perkataan redha ini terkandung di dalamnya terima, tunduk, patuh dan melaksanakannya tanpa berpaling kepada petunjuk atau peraturan yang lain. Jika ia masih lagi cenderung kepada petunjuk yang lain maka ia bercanggah dengan maksud redha dan ianya membuka jalan kepada nifaq dan kufur.

4. Tidak melanggar sempadan syariat. Ini merupakan natijah daripada redha. Sesiapa yang telah redha dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw, maka segala gerak geri amalannya akan berpandukan kepada garis panduan yang telah ditetapkan oleh syariat. Ini semua akan berlaku apabila wujudnya perasaan yakin bahawa syariat yang disampaikan oleh Nabi saw ini telah lengkap dan tidak lagi berhajat kepada sebarang penambahan mahu pun pengurangan. Rasulullah saw dengan sifat amanahnya pula telah menyampaikan ajaran syariat ini keseluruhanya tanpa disembunyi sedikit pun daripadanya. Maka contoh teladan yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw itulah yang paling sempurna. Usahlah dicacatkan agama ini dengan sebarang pengurangan mahupun penambahan daripada manusia. Bergeraklah di dalam daerah yang telah ditetapkan oleh syariat dan jangan cuba untuk melanggari sempadannya. Renungilah maksud daripada firman Allah ini: “Itulah aturan-aturan hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarinya, dan sesiapa yang melanggar aturan hukum Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (al-Baqarah: 229) Demikianlah beberapa panduan al-Quran dan al-hadith di dalam membicarakan tentang hubungan dan tanggungjawab kita terhadap Rasulullah saw. Setiap individu Muslim haruslah mengkoreksi dirinya sejauh mana perasaan cinta dan kasih kepada Rasulullah saw. Janganlah perasaan cinta kepada kebesaran dunia, kaum keluarga, harta benda, pangkat dan kedudukan mengatasi perasaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Seterusnya, cinta ini perlulah diiringi dengan menuruti jejak langkah Baginda dan mengamalkan sunnah-sunnah yang telah ditinggalkan kepada kita. Semoga dengan perasaan cinta dan ikutan kita kepada Rasulullah saw ini menjadi bukti untuk kita bersama-sama dengan Baginda di syurga kelak. Amin.

Gerhana Para Juhala’

Friday, June 9th, 2006

BENARKAH IBN TAIMIYAH MENYELEWENG ?

Oleh Mohd.Amar Abdullah Al Fansuri

[RENCANA  INI  MENJAWAB RENCANA SOHAIMI MIOR HASSAN  YANG  MEMPERTIKAI IBN TAIMIYAH SEMASA MENJAWAB TULISAN RAMLI AWANG   FEBUARI /MAC 1989 ]

 

Ibnu Taimiyah dari dahulu hingga kini difitnah sebagai sesat, menyeleweng  dan berbagai lagi oleh buku Perkembangan Mazhab-mazhab Ilmu Kalam Dalam Islam Terbitan YADIM 1980,Buku Karangan Mustaffa Suhaimi, Ulama Al Arqam dan lain-lain yang menjadikan catatan Rahlah Ibnu Batutah dan kitab I’tikad Ahlu Sunnah wal Jamaah-Kiyai Siradjuddin Abbas sebagai rujukan utama tanpa rujuk kitab karya Ibnu Taimiyah sendiri.

————————–

BENARKAH IBN TAIMIYAH MENYELEWENG ?

Oleh Mohd.Amar Abdullah Al Fansuri

[RENCANA  INI  MENJAWAB RENCANA SOHAIMI MIOR HASSAN  YANG  MEMPERTIKAI IBN TAIMIYAH SEMASA MENJAWAB TULISAN RAMLI AWANG   FEBUARI /MAC 1989 ]

 

 

         Ibn Taimiyah, atau nama penuhnya Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim, dilahirkan pada bulan Rabi’ul Awal 661H di Harran . Sewaktu berusia lebih kurang enam tahun, keluarga beliau berpindah ke Damsyik bagi menyelamatkan diri daripada  serangan tentera Mongol. Sewaktu di Damsyik bapanya dilantik menjadi profesor di Darul Hadith Sukkariyah, sebuah pusat pengajian mazhab Hambali yang terkenal.

         Ibn Taimiyah memperolehi pendidikan di Damsyik dan menurut catatan sejarah beliau berguru kepada lebih 200 ulama besar waktu itu. Beliau kemudian menguasai hampir semua cabang ilmu terutamanya tafsir, hadis, fekah, nahu, falsafah dan algebra.Ketinggian ilmu pengetahuan Ibn Taimiyah diakui oleh semua ulama, kawan atau lawan, yang sezaman dengannya. Shamsuddin Dhahabi [m.748H], Ibn Sayyid an-Nas [m.734H] dan Ibn Daqiq Al-Id [m.702H] umpamanya menganggap beliau sebagai seorang alim lagi mujtahid yang tiada tandingan pada zaman itu. Dhahabi sendiri berpendapat bahawa Ibn Taimiyah menguasai pandangan-pandangan tabiin dan memahami seluruh pendapat dalam mazhab-mazhab fekah. Bahkan lawan-lawan beliau seperti Bahauddin Subki [m.677h) dan Ibn Zimlikani(m.727h), dua  ulama   besar  dalam  mazhab  Syafie , menghormati  ketokohan  Ibn  Taimiyah   dan  menganggap  beliau  sebagai  mujtahid  mutlak  yang  tidak  terikat  kepada  mana-mana  mazhab  dalam  mengeluarkan  fatwa.

         Sesuai  dengan  kotokohan  beliau  dalam  bidang  akademik, Ibn  Taimiyah  diberikan  ijazah  oleh  gurunya  untuk  memberi  fatwa  sewaktu  berusia  18 tahun. Apabila  bapanya  meninggal  dunia  pada  tahun  681H, Ibn  Taimiyah  di lantik  sebagai  pengganti. Kemudian  beliau  dilantik  pula  sebagai  guru  tafsir  di masjid   besar  Damsyik   ketika  berumur  24 tahun.

         Ibn  Taimiyah  bukan  seorang  alim  yang  hanya  tahu  bersyarah  dan  menulis   tetapi  beliau  ikut serta  beberapa  kali   melancarkan  jihad  menentang golongan bidaah dan kufur. Beliau melaksanakan amar ma’ ruf dan nahi mungkar  bukan setakat dengan lidah tetapi menggunakan kuasa yang ada dengan sebaik munkin.  Seluruh hidup  beliau  dihabiskan  untuk usaha -  usaha  pengislahan dalam  agama  tanpa  menghiraukan caci maki penentang-penentangnya.

         Matlamat utama perjuangan beliau ialah memurnikan kembali seluruh ajaran Islam sebagaimana yang dibawa  oleh Rasulullah s.a.w. dan dihayati oleh Salaf. Kerana itu beliau mengambil sikap yang agak keras terhadap sebarang bentuk penyelewengan, bid’aah dan kufur. Ibn Taimiyah menyeru umat Islam supaya kembali kepada sumber asal agama iaitu Al Quran, Sunnah dan Ijmak Salaf. Beliau mengkeritik hebat aliran ilmu kalam bid’ah, terutamanya Muktazilah dan Ashariyah yang dipengaruhi oleh pemikiran falsafah Greek dan menyimpang daripada pegangan generasi awal Islam. Selain itu beliau juga mengkeritik pegangan dan amalan sufi yang bercanggah dengan nas al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w. Menurut beliau beberapa kepercayaan dan amalan itu boleh membawa kepada sesat,syirik dan kufur.

         Akibat sikap beliau yang tegas, Ibn Taimiyah dilemparkan dengan pelbagai tuduhan dan fitnah hingga dimasukkan ke dalam penjara beberapa kali. Sepanjang hayat beliau bahkan selepas mati pun Ibn Taimiyah dituduh oleh lawan-lawannya sebagai musyabbih, walaupun beliau menolak tuduhan itu secara tegas. Menerusi karya-karyanya dalam Usuluddin, Ibn Taimiyah menjelaskan berulang kali bahawa matlamat utama beliau ialah berpegang teguh kepada al-Quran dan Sunnah di samping menolak sebarang bentuk tasybih                    [ menserupakan Allah dengan makhluk] dan tahtiil [ menafikan semua atau sebahagian sifat-sifat Allah]. Sikap ini tergambar dalam ungkapan beliau yang terkenal iaitu:”Allah hendaklah disifatkan sebagaimana Dia menyifatkan diriNya sendiri dalam al-Quran dan sebagaimana Nabi s.a.w. menyifatkanNya dalam hadis  tanpa sebarang tahrif [penyelewengan] atau taatil; tanpa sebarang takyif [ menanyakan bentuk] atau tamthil [ mengumpamakan Allah dengan makhluk]. Sebaliknya setiap Muslim mestilah percaya benar-benar bahawa Allah itu “Tiada sesuatu pun serupa dengan Dia dan dia Maha Mendengar Maha Melihat”. [Ash Shura 42:11].

         Sejajar dengan dasar ini, Ibn Taimiyah menafsirkan nas-nas al-Quran dan hadis mengenai sifat-sifat Allah secara harfi. Beliau mengithbatkan semua sifat khabariyah [ yang ditakwilkan oleh Muktazilah dan Ashariyah] seperti wajah, tangan, mata , turun dan bersemayam sebagai sifat-sifat Allah yang sama sekali tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk. Ekoran dari pegangan ini yang dianggap sebagai tasbih, lawan-lawan Ibn Taimiyah menyerang karya-karya beliau terutama al-hamawiyah al-kubra dan al-aqidah al-wasitiyah. Walaupun beberapa Ijtimak yang dibuat mengikut arahan penguasa Damsyik waktu itu yang telah memutuskan bahawa pegangan Ibn Taimiyah tidak bercanggah dengan al-Quran dan Sunnah, namun permasaalahan ini masih belum selesai. Ibn Battutah [m.779H]. menerusi karyanya yang masyhur Rehlah, secara terang-terangan menuduh Ibn Taimiyah musyabbih kerana mengatakan turun Allah s.w.t. ke langit dunia sama dengan turunnya beliau dari atas mimbar.     Diperturunkan petikan daripada cerita dalam Rehlah:

         “Pada masa itu saya berada di kota Damsyik dan sempat menghadiri kuliah Jumaat yang disampaikan olehnya kepada orang ramai dari atas mimbar. Antara lain beliau berkata ; Sesungguh Allah turun ke langit dunia sama seperti saya turun . Lantas dia turun selangkah dari atas mimbar.” [Rehlah Ibn Battutah, I:68].

         Cerita ini kemudiannya tersebar luas dan diterima sebagai benar oleh sarjana-sarjana yang kemudian tanpa usul periksa. Ignaz Goldziher [orentalis barat] umpamanya memetik cerita ini dalam tulisan-tulisannya tidak kurang dari dua kali dan menganggap Ibn Taimiyah mendokong faham tajsim[ iaitu tuhan mempunyai tubuh badan]. Pandangan ini dikongsi oleh Muhamad bin Cheneb dalam makalah beliau bertajuk ‘Ibn Taimiyah’ yang dimuatkan dalam Shorter Encyclopedia of islam, terbitan Leiden. Duncan Black Macdonald pula melalui bukunya The Development of Muslim Theology, Jurisprudence and Contitutional Theory menyifatkan Ibn taimiyah sebagai “ an anthropomorphist….but of what exact shadc is obscure”. [hal. 274]

        Cerita  yang  sama  dibawa  oleh  Ibn  Hajar   Al- Asqalani            ( m.853h) dalam  karya  biografinya  bertajuk  ad-durar  al-kaminah, juz 1,halaman  164. Tetapi   berbeza  dengan  sarjana-sarjana  lain, beliau  menganggap  cerita  itu  dibuat-buat  oleh  musuh-musuh  Ibn  Taimiyah. Sikap  ini  diperkukuhkan   lagi  oleh  kenyataan  beliau  yang  termuat  dalam  kitab  ar-radd  al-wafir  susunan  Ibn  Nasiruddin. Melalui  kenyataan  itu   Ibn  Hajar  mengakui  ketinggian  ilmu  dan  kebesaran  peribadi  Ibn  Taimiyah. Bahkan  beliau  secara  tegas  memberikan  gelaran  Syaikhul  Islam  kepada  Ibnu  Taimiyah  walaupun  ada  ulama pada  waktu  itu  yang  mengeluarkan  fatwa  barang  siapa  memberikan  gelaran  itu  kepada  Ibnu  Taimiyah , dia  menjadi  kafir  . NAUZUBILLAH.

 

MUNASABAH                                                                                                                                            

                                                                                                                          Bagaimanapun  seorang  sarjana  Perancis   bernama  Henry  Laoust  berpendapat  sumber cerita  Ibn  Hajar  itu  ialah  Sulaiman  Najmuddin  at-  Tufi  (M. 716h ) ,  murid Ibn Taimiyah  sendiri. Pandangan   yang  diberikan  oleh  Laoust  ini  pada  hakikatnya bercanggah dengan   pendapat   beliau  sendiri  yang  menganggap  tuduhan tasybih  terhadap  Ibn  Taimiyah  bertentangan  dengan  metodologi  akidah  beliau  dan  “the  positive  contents  of  his  theodicy’’  . Katakanlah  pendapat  Laust  bahawa   Sulaiman  at-Taufi  sebagai  sumber  cerita  Ibn   Hajar  itu  benar  dan  dapat  di terima . Ini  bermakna   peristiwa  itu  pasti  berlaku  sebelum  tahun  716H  atau  sekurang-kurangnya   dalam  tahun  itu. Oleh  kerana  at-Tufi  meninggal  dalam  tahun  716H, untuk  mengemukakan  andaian  sebaliknya  tentulah  amat  tidak  munasabah. Kalaulah  benar  peristiwa   itu  terjadi  dalam  lingkungan  masa  berkenaan , ini  bermakna  dakwaan   Ibn   Battutah  bahawa  dia  melihat  sendiri  “ gelagat  keji  Ibn  Taimiyah  diatas  mimbar” adalah  satu  dusta  yang  amat  besar. Kerana  mustahil  Ibn  Battutah  boleh  berada  dalam  satu  peristiwa  yang  berlaku  10  tahun  dahulu  sebelum  kedatangan  beliau  ke  Damsyik.

         

         Sebenarnya  cerita  Ibn  Battutah  ini  amat  tidak  benar  dan  mempunyai  beberapa  kejanggalan.Paling  utama  ialah  cerita  itu  goyah  dan tidak  dapat  dipertahankan  pada  segi  urutan  masa         ( chronology) . Menurut  Ibn  Abdul  Hadi   d  alam  kitab  al Uqud     ad-Durriyah, Ibn Taimiyah dimasukkan ke dalam penjara Damsyik buat kali terakhir pad 6 Syaaban 726H. Penahanan ini berpanjangan sehingga beliau meninggal dunia dalam penjara pada bulan Zulkaedah 728H. Berdasarkan fakta ini amat sukar buat kita memahami bagaimana Ibn Batutah benar-benar melihat ‘gelagat’ Ibn Taimiyah (apakah beliau keluar penjara ?) di atas mimbar dengan mata kepalanya sendiri kiranya beliau tiba di Damsyik hanya pada 9 Ramadhan 726H, iaitu kira-kira sebulan selepas Ibn Taimiyah masuk penjara. Ini bererti Ibn Battutah  sebenarnya tidak bertemu Ibn Taimiyah, apatah lagi menghadiri kuliah beliau di masjid.

 

FAKTA IBN BATTUTAH BERCANGGAH DENGAN SEJARAH

IBN TAIMIYAH JADI MANGSA SALAH TAFSIR

         Kejanggalan yang wujud dalam cerita itu didedahkan juga oleh Syaikh Muhammad Bahjah Baitar dalam bukunya ‘Hayah Syaikul Islam Ibn Taimiyah ‘. Beliau adalah sarjana pertama yang mendedahkan perkara ini kepada umum.

         Selain  itu , Ibn Battutah  juga  mnyebut bahawa Ibn Taimiyah dipanggil  ke Kaherah oleh Al- Malik an-Nasir  . Di sana beliau dihadapkan dimahkamah oleh Syarafuddin Zawawi dan kemudiannya dijatuhkan hukuman penjara oleh al-Malik an Nasir. Sewaktu dalam penjara, beliau mengarang kitab tafsir bertajuk al-bahruul muhit sebanyak 40 jilid. Selepas beberapa tahun ibunya mengemukakan rayuan kepada sultan dan akhirnya Ibn Taimiyah dibebaskan. Demikian kandungan cerita  yang dibawa oleh Ibn Battutah. Sekali lagi fakta-fakta itu bercanggah dengan kenyataan sejarah. Menurut catatan sejarawan seperti Dahabi dan Ibn Kathir, Ibn Taimiyah dipanggil ke Mesir oleh sultan Ruknuddin Baybars al-Jaysnikir  pada tahun  705H. Di sana beliau dibawa ke mahkamah oleh Ibnu Adlan [ m:749H] atas tuduhan membawa faham ‘tasbih’ .Natijah daripada itu beliau telah   dimasukkan ke penjara oleh Qadhi   Ibnu Makhluf [m:718H] . Al Malik An-Nasir [ nama penuhnya Muhammad bin Qalawun [m:741H]. Pada waktu itu sebenarnya berada dalam buangan di Kark. Selepas berada dalam penjara lebih kurang satu setengah tahun, Ibn Taimiyah dibebaskan kerana campur tangan salah seorang sahabat beliau  Muhanna bin Isa [m:735H], ketua qabilah Al Fadl. Mengenai tafsir al-bahruul muhid, ia bukan karya Ibn Taimiyah . Memang beliau ada menulis tafsir, tetapi tafsiran beliau tidak lengkap . Ia lebih bersifat apa yang digelar sebagai tafsir ‘ Maudu,i’ dan karya ini dalam Maj’mu Fatwaa iaitu koleksi Ibn Taimiyah berjumlah 37 jilid. Al Bahruul Muhid ialah nama kepada karya tafsir Abu Hayyan [m:745H], seorang ulama   Mazhab Zahiri.

 

TANPA BERTANYA

 

         Bedasarkan fakta-fakta di atas nyata bahawa cerita Ibn Battutah tidak dapat dijadikan asas menuduh Ibn Taimiyah sebagai musyabbih.Lebih-lebih lagi dalam tulisan-tulisannya [kini telah diterjemah dalam B,Melayu] Ibn Taimiyah  sentiasa mengkeritik hebat golongan musabbihah dan jahmiyah. Beliau mengkeritik musabbihah kerana menjadikan Allah Swt seolah-olah sama dengan makhluk. Manakala Jahmiyah pula dikeritik kerana menafikan seluruh sifat-sifat Allah Swt dan menjadikannya satu keujudan yang tidak bererti . Amat tidak kena sekali kita menuduh Ibn Taimiyah sesat, musabbih atau kafir semata-mata kerana beliau mengistbatkan nas-nas al-Quran dan Hadis mengenai sifat khabariah secara harfi. Memang benar beliau mentafsirkan sifat-sifat seperti wajah, tangan, bersemanyam dan seterusnya  tanpa takwil tetapi ini tidak bermakna  beliau mendokong faham tasbih. Kerana dalam setiap tulisannya, terutama al hamawiah dan al wasitiiyah  beliau menekankan bahawa sifat -sifat tadi tidak serupa dengan sifat makhluk. Kiranya kita boleh menerima Allah swt mempunyai dzat yang berbeza sama sekali dengan dzat makhluk mengapa kita tidak boleh menerima bahawa sifat-sifat tadi juga tidak menyerupai sifat makhluk ?

        Menurut Ibn  Taimiyah  persamaan   dalam  nama  tidak  membawa  erti  serupa  dalam  betuk  dan gambaran [ Ittihad  fi’l  isma  Ia  yastalzim  at - tashabuh  fi’ l  wasf  ]  .          Sebagaimana kita  mengithbatkan  Allah  s.w.t  itu   wujud  ,medengar , melihat  dan  seturusnya  adakah  kita  mengatakan  sifat-sifat  tadi   serupa  dengan  kewujudan, penglihatan  dan  pendengaran  makhluk? Tentu  sekali  tidak  kerana  Allah  s.w.t.  itu  bersifat “ Tiada  sesuatu  pun  serupa  dengan  dia……” [ ash-Shura 42:11].

         Sebenarnya  seluruh  ulama  salaf, termasuk  Abu  Hanifah, Malik, Syafi’i , Ahmad  bin  Hanbal, Baihaqi , Bukhari, Abu  Hasan Asy’ari, Abu Bakar Baqillani, Abu Najib Suhrawardi, Abdul Qadir Jailani dan Al-Ghazali sendiri mengithbatkan sifat-sifat khabariyah dalam tulisan-tulisan mereka. Mereka sepakat mengatakan bahawa pegangan salaf dalam perkara ini ialah mengithbatkan tanpa bertanya bagaimana [ al-ithbat bila kaifa].

         Pegangan ini digambarkan dengan indahnya oleh Malik bin Anas [m.179H] apabila ditanya bekenaan bentuk semayam Allah swt. Beliau berkata:”Sifat semayam itu dimaklumi, bentuknya tidak diketahui, beriman kepadanya adalah wajib dan bertanya mengenai bentuknya adalah bid’ah.”

         Inilah juga sikap yang diambil oleh Abu Hanifah dalam kitabnya al-Fiqhu’l akbar, Baihaqi dalam kitabnya al-Asma’wa’s sifat dan al-I’tiqad dan Abu Najib Suhrawardi dalam kitabnya Adabu’l muridin. Ahmad bin Hanbal, menurut riwayat anaknya Abdullah dalam kitab as-Sunnah dan riwayat Ibn Qudamah al-Maqdisi dalam kitab Tahrim an-Nazar fi Kutub ahli’l kalam, apabila ditanya mengenai hadis-hadis yang menyebut Allah dapat dilihat pada hari Kiamat, Dia turun ke langit dunia pada satu pertiga malam, Dia meletakkan kakinya ke dalam neraka dan hadis-hadis yang seumpama itu menjawab dengan tegas:” Kami beriman dengan semua itu dan menerimanya sebagai benar tanpa menolak walaupun sebahagian daripadanya apabila sanadnya kuat. Begitu juga kami tidak menolak ucapan-ucapan Rasulullah kerana kami pasti apa yang Baginda bawa adalah benar. Allah swt tidak boleh disifatkan melebihi gambaran yang diberikan olehNya tanpa sebarang batasan mahupun ukuran [bila hadd wala ghayah]”.

         Abu Hasan Asy’ari [m.324H] yang dianggap pengasas mazhab Asy’ari menyatakan dengan tegas bahawa beliau mendokong pegangan salaf dan ahlu’s sunnah wa’l hadis iaitu mengithbatkan segala sifat Allah swt tanpa takwil. Sebagai contohnya dalam kitab Ibaanah, iaitu kitab akidah terakhir yang ditulis oleh  beliau sewaktu di Baghdad dan kitab Maqalatul Islamiyyin, Asy’ari berkata: Dia mempunyai dua tangan bila kaifa sebagaimana firmanNya:”Orang yang telah Aku ciptakan dengan tanganKu”{Sad:75] dan “Bahkan tangan Tuhan itu selalu terkembang” [al-Ma’idah:64], Dia mempunyai dua mata bila kaifa sebagaimana firmanNya:”Belayar dengan pemandangan Kami”[ al-Qamar:14].[Ibanah, hal.18]. Pegangan yang serupa dapat kita temui dalam kitab at-Tamhid, sebuah karya besar dalam ilmu Kalam yang ditulis oleh Abu Bakar Baqillani [m.404H].

 

Pegangan murni

         Adalah satu keganjilan  yang menjolok mata apabila kita membaca tulisan-tulisan mereka yang mengakui sebagai pengikut Asy’ari seperti Imamu’l Haramain al-Juwayni [m.478H] dan Fakhruddin Razi [m.606H] mentakwilkan nas-nas mengenai sifat khabariyah sama seperti yang dilakukan oleh aliran Muktazilah. Sifat wajah ditakwilkan sebagai zat, tangan ditakwil sebagai kudrat atau rahmat, mata ditakwil sebagai ilmu dan seterusnya. Takwilan-takwilan ini dapat ditemui antaranya dalam kitab Asas ata Taqdis dan Tafsir Mafatihu’l Ghaib, kedua-duanya karya Fakhruddin Razi. Hujah-hujah yang dikemukakan oleh mereka dalam karya-karya itu hampir sama dengan apa yang dipaparkan oleh tokoh-tokoh Muktazilah. Tetapi mereka masih mempertahankan pegangan itu sebagai iktikad salaf dan menganggap mereka sebagai pendokong mazhab Asy’ari. Sedangkan al-Ghazali [m.505H] sendiri merumuskan  dengan  tepat  bahawa  pegangan  salaf  yang  sebenar  ialah  mengithbatkan  sifat-sifat   Allah  s.w.t.  tanpa  sebarang  takwil   . Melalui karya beliau yang mengutarakan  hujah- hujah yang kemas  dan menarik mengapa pegangan salaf lebih benar dan menepati  kehendak Al-Quran berbanding pegangan kalaf. Fakhuruddin Razi sendiri pada akhir hayat beliau mengakui hakikat ini. Menurutnya setelah  mempelajari  pelbagai aliran kalam dan  kaedah falsafah beliau dapati semuanya tidak berupaya “ mengubati  pesakit” dan tidak mampu “ menghilangkan haus dahaga’’. Cara terbaik menurut beliau ialah apa yang dikemukakan oleh  Al- Quran mengenai sifat- sifat Allah S.W.T  ( Ma’sumi ,  Fakhr al-Din al-Razi and his critics’ dalam Islamic Studies, vol.6:4 919670, hal.355-374].

         Sebenarnya apa yang dibuat oleh Ibn Taimiyah ialah tidak lebih daripada mengutarakan kembali pegangan murni salaf yang dicemarkan oleh noda-noda falsafah Greek dan speculative theology. Pada zaman khalaf perbincangan akidah islam bercampur-baur dengan pemikiran falsafah Greek sehingga pembaca merasa amat sukar membezakan antara karya ilmu kalam dan falsafah. Keadaan ini ketara sekali, terutamanya lewat tulisan-tulisan Razi dan Baidawi. Ibn Taimiyah berusaha membersihkan perbincangan akidah daripada unsur-unsur falsafah Greek yang amat asing daripada persekitaran Islam dan tidak berlandaskan wahyu. Malang sekali usaha murni ini telah disalahtafsirkan oleh mereka yang berkepentingan dan cetek ilmu pengetahuan. Kita menerima hakikat bahawa Ibn Taimiyah adalah manusia biasa yang mempunyai kesilapan dan kekurangan. Tetapi sebagaimana kata Ibn Kathir, kesalahan dan kekurangan beliau amat kecil berbanding keilmuan, ketinggian peribadi dan kebenaran seseorang itu berdasarkan kekerapan menunaikan fardhu haji ke Mekkah. Andainya kita menerima kayu ukur ini dalam membuat penilaian di mana kita akan meletakkan Rasulullah s.a.w yang hanya menunaikan fardhu haji sekali seumur hidup beliau [ sebagaimana tercatat dalam kitab Zadu’l Ma’ad dan ‘Uyunu’l Athar] berbanding mereka yang menunaikannya sehingga tujuh kali ?

         Sebagai penutup saya ingin memetik jawapan yang diberikan oleh Baha’uddin Subki kepada orang yang bertanya mengenai mereka yang memusuhi Ibn Taimiyah. Beliau berkata,” Demi Allah Wahai si fulan, Ibn Taimiyah tidak akan dibenci melainkan oleh si jahil dan orang yang mengikut hawa nafsu. Ada pun si jahil dia tidak tahu apa yang diucapkannya manakala pengikut hawa nafsu tidak dapat melihat kebenaran kerana tertutup oleh nafsunya.” Wallahua’lam bis sawab.

Seputar Manhaj

Friday, June 9th, 2006

TAKRIF AHLI SUNNAH WAL JAMAAH

ADAKAH IBNU TAIMIYAH  AHLI SUNNAH WAL JAMAAH ?

Oleh

Ramli Awang

Universiti Kebangsaan Malaysia

[Petikan Rencana ini telah disiar dalam Berita Harian Mac 1989]

TAKRIF AHLI SUNNAH WAL JAMAAH

         Rasulullah s.a.w. bersabda:”Sesungguhnya pendustaan ke atasku tidak seperti mana pendustaan ke atas seorang yang lain, maka sesiapa yang berdusta ke atasku dengan sengaja, ia [sengaja] menyediakan tempatnya dalam neraka.”[Muslim,Sahih, 1:8].

         Hadis ini mengajar umat Islam agar tidak menjadi pendusta atas nama Nabi s.a.w. dengan maksud mengatakan apa yang Nabi tidak  ucapkan. Sehubungan itu, penelitian saya mendapati bahawa ungkapan yang menyebut kononnya Nabi pernah bersabda ;”Golongan yang selamat itu adalah ahlu sunnah wal jamaa’ah” sekali-kali tidak ada dalam senarai hadis sahih, malah Kutub Sittah juga tidak menyebutnya. 

Apa yang disebut oleh Nabi s.a.w. berhubung hadis “al-firaq” [perpecahan] itu dan menghubungkan puak yang selamat ialah:

¨     Ma ana’alaihi wa ashabi;

¨     al-Jama’ah; dan

¨     Illa milah.

         Tiga lafaz ini- apa yang aku berada di atasnya dan sahabat-sahabatku, kumpulan yang ramai [ al-jamaah ] dan kecuali satu agama saja, disebut dalam hadis-hadis sahih.

[Baca: Nasiruddin al-Albani, Silsilah Ahadith al-Sahihah, 1:hadith no 203,204].

         Riwayat yang mengatakan hanya satu kumpulan selamat iaitu ahlu sunnah wal jamaah tidak boleh dipertanggungjawabkan. Kitab-kitab hadis yang muktabar tidak menyebutkannya. Hanya disebut oleh kitab-kitab hadis muktabar murahan seperti ‘ Bahaya Syiah dan I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jamaah’. Kedua pengarang buku ini menisbahkan hadis mereka kepada al-Tabarani. Sedang hadis-hadis al-Tabarani bercampur-baur dengan yang lemah dan mauduk [palsu]. Riwayat itu juga dinaqalkan oleh al-Syahrastani [479-548H] di dalam kitabnya al-Milal wa al-Nihal [1:11] tanpa beliau menyebutkan dari siapa hadis itu diriwayatkan. Di akhir kitabnya [3:110] beliau menganjurkan agar diperbaiki kiranya ketemu kekeliruan terhadap apa yang dituliskannya.

         Sesungguhnya tambahan lafaz ‘Ahlu sunnah wal Jamaah” itu  adalah dilakukan oleh orang kemudian demi menegakkan dan fanatik kepada puak mereka lantas untuk membenarkannya dinisbahkan kepada Nabi. Na’uzubillah.

         Oleh kerana Nabi tidak pernah menamatentukan siapakah ahlu sunnah wal jamaah itu,maka pelbagai tafsiran diberikan terhadapnya.

         Perkataan ahlu sunnah wal jamaah adalah suatu istilah yang bersifat badihi [mudah difahami]. Al-Allamah Muhammad Khalil Haras menyebutkan:”……Yang dikehendaki dengan sunnah ialah jalan yang Rasulullah serta sahabat berada di atasnya, manakala jama’ah pula pada asalnya sekumpulan kaum; yang dikehendaki disini ialah :salaf al ummah dari sahabat dan tabi’in. Mereka berkumpul di atas kebenaran [al-hak] yang nyata dari Kitab Allah dan Sunnah RasulNya.” [Syarh ‘Aqidah al-Wasitiyyah, Iskandariyah:Matba’ah Dar Nasyr al-Thaqafah,tt]hal.14.

         Tegasnya, di sini ahlu sunnah merujuk kepada mereka yang beriltizam dengan sunnah. Perkataan “ahli” ertinya orang yang terbabit atau mengambil bahagian dalam sesuatu perkara. Seperti dikatakan “ahli pertubuhan”;”ahli sukan;” “ahli kelab;”dan sebagainya. manakala perkataan sunnah pula ialahperkataan [qawliyah]’”perbuatan [fi’liyah]”,dan juga “ikrar”[ pengakuan] Rasulullah. Ada juga ulama membahagikan  sunnah kepada empat dengan memasukkan “tarkiyah” [yang ditinggalkan]. Ertinya yang ditinggalkan/tidak dikerjakan Nabi; lalu kita juga mencontohinya dengan tidak mengerjakan, juga dinamakan sebagai sunnah.

[Penyalin: Kini  sudah timbul satu kefahaman iaitu boleh buat jika Nabi tidak menyuruh dan tidak melarang dalam urusan  ibadah].

[Tambahan penyalin: Ahli Sunnah Wal Jamaah yang sebenar ialah mereka yang berpegang[beramal] kepada sunnah Rasulullah s.a.w. dan Sunnah para Sahabatnya. Jamaah ialah Jamaah para sahabat Rasul [ berada dalam kebenaran dan tidak melakukan bid’ah dalam agama].

         Begitulah kedudukan ahli sunnah. Mereka itu tidak lekang daripada sunnah Rasul dalam amalan mereka. Ia bukanlah “label” yang dipakaikan untuk suatu kumpulan  tertentu atau nama untuk satu kaum mengikut sesuka hati. Tidaklah menjadi ahli sunnah kalau seseorang itu tidak berpegang kepada sunnah atau menolaknya atau beramal tanpa pertunjuk sunnah. Sepertimana tidak menjadi ahli sukan kalau seorang itu tidak pernah atau beramal dengan sukan. Kesimpulannya syarat menjadi ahli sunnah itu mestilah berpegang kepada al-sunnah atau hadis-hadis; kalau tidak, bukanlah ahli sunnah. Mereka ini juga kadangkala dikenali sebagai ahli hadis [dalam pengertiannya yang lebih sempit].

         Telah jelas kepada ahli ilmu yang Imam-imam Mujtahid itu mengikut sunnah, tetapi yang menjadi persoalannya pengikut imam-imam mereka menyeleweng dari sunnah; mereka melanggar pesanan imam-imam mereka agar berpegang kepada al-sunnah.

[Penyalin: Mereka beramal dengan sunnah beserta amalan bid’ah, amalan bid’ah dalam ibadat banyak telah menjadi bid’ah hasanah].

         Walaupun mereka menyimpang dari petunjuk imam mereka, masih juga mereka mendakwa sebagai ahli sunnah. Hairan, tapi inilah yang berlaku.

         Bagi mengekalkan ketulinan inilah Imam-imam Mujtahid memberi pesanan masing-masing sebagai berikut:

Berkata Imam Abu Hanifah [80-150H]:” Bila sah sesuatu hadis itu, maka ia adalah mazhabku .”[baca Ibnu’Abidin, al-Hasyiah Ibn”Abidin.1:63]. Katanya lagi:”Tidaklah halal bagi seseorang itu mengambil kata-kata kami selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya.”[Baca Ibnu “Abdil Barr al-Qurtubi, al-Intifa’.hal.145: Ibn Qayyim, I’lam al-Muwaqqi’in.2:309]. Dalam riwayat lain ujar beliau:”Haram atas seseorang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan perkataanku.”

         Imam Malik [M:179H] pula berkata:”Hanya sanya aku adalah manusia, boleh jadi betul dan boleh jadi salah, kerana itu perhatikanlah kepada pendapat-pendapatku, mana-mana yang menyalahi keduanya tinggalkanlah.”[ Ibn Abdil Barr,Jami’Bayan al-’Ilm,2:32]. Ujarnya lagi :”Tiada seorang pun selepas Nabi, melainkan boleh diambil dan ditinggalkan perkataannya.”

         Imam As-Syafi’i [150-204H] berpesan:” Telah menjadi Ijma’ bagi kaum Muslimin bahawa sesiapa yang telah jelas nyata bagi sunnah Rasulullah s.a.w. tidak halal baginya meninggalkan sunnah itu kerana [mengikut] perkataan seseorang.” [Ibn Qayyim, ibid,2:361]. Kata beliau lagi: “Bila mana kamu dapati dalam kitabku ini menyalahi sunnah Rasulullah, maka berkatalah kamu menurut sunnah itu dan tinggalkanlah apa yang telah aku katakan itu .”[al-Nawawi, al-Majmu’,1:639; Ibn Qayyim,ibid, 2:361]. Selanjutnya beliau menyebutkan:”Setiap masaalah yang sah padanya ada khabar dari Rasulullah di sisi ahli naqal [riwayat], dan ia menyalahi apa yang aku kata, maka aku menarik balik darinya [ akan kata-kataku itu] sewaktu hidupku dan selepas matiku.” [Ibn Qayyim],ibid,2:363].

         Imam Ahmad bin Hanbal [M:241H] berkata: “Janganlah kamu bertaklid kepadaku dan jangan bertaklid kepada Malik,Syafi’i,Auza’i [M:157H], dan juga Thawri [M:161 H]. tetapi ambillah daripada [Quran/Hadis] mana merka itu mengambilnya.” {Ibn Qayyim, ibid,2:302]. Ujarnya lagi :”Sesiapa yang menolak hadis Rasulullah s.a.w. maka ia berada di atas jurang kebinasaan,” [Ibn Jawzi, al-Manaqib ahmad bin hanbal, hal.182].

         Perhatikanlah pesanan ulama Mujtahid itu dengan saksama; mereka sentiasa menyuruh umat Islam agar memerhatikan sunnah dan mengikutinya, seterusnya berpegang kepadanya. Apakah arahan ini diamalkan oleh pengikutnya ? Mengapa mereka tidak berusaha mendapatkan penjelasan mengenai kesahihan sesuatu hadis ? Patutkah mereka mendewa-dewakan [qaul ulama] ,syeikh tarekat yang menyalahi sunnah Nabi itu menjadi pengikut ahli sunnah ? Adalah tidak layak menjadi pengikit Imam Syafi’i kalau tidak mahu mematuhi saranannya ! Kita yakin bahawa mereka yang mengikut Imam Syafi’i sekarang ini sebenarnya tidak mengikut beliau itu , tetapi mengikut orang lain.

 

ADAKAH IBNU TAIMIYAH BUKAN AHLI SUNNAH

         

         Tuduhan kepada al-Imam Syaikh al-Islam ibnu Taimiyah [M:728H] yang dilakukan oleh saudara Suhaimi Mior Hassan dalam Berita Harian 10 Mac 1989 , adalah zalim,melulu, jauh dari fakta kebenaran dan jahil terhadap perkara sebenar. Beliau  tidak merujuk kepada apa yang ditulis oleh Ibn Taimiyah sendiri, malah memetiknya daripada  mereka yang tidak amanah dalam ilmu. Perbuatan seperti inilah yang menyesatkan orang ramai. Ibn Taimiyah bukanlah orang seperti yang disebutkan. Beliau sebenarnya adalah penentang kepada falsafah yang pada keyakinannya menyesatkan umat Islam. Beliaulah antara tokoh yang mempertahankan akidah salaf dari penyeludupan falsafah zamannya; beliaulah juga orang  yang memperbetulkan pandangan beberapa orang ulama yang terpengaruh dengan falsafah kalamiyah, juga dalam tasawuf. kitab-kitab karangan beliau seperti : Muwafaqat Sahih al-Manqul li sarih al-Ma’qul, Naqd al-Mantiq, minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah adalah antara lain yang mendedahkan kepalsuan ahli falsafah kalamiyah dalam masalah akidah Islam. Kita tidak tahu daripada ulama sunnah manakah sumber yang diambil oleh sudara Suhaimi [dan penuduh lain] itu !

         Usaha Ibnu Taimiah ini disanjung tinggi oleh as-Sayuti [M: 911H]. Ini terbukti dengan ringkasan beliau terhadap buku yang ditulis oleh Ibn Taimiah -Nasihat ahli al-Imam fi radd’ala mantiq al-Yunan. As-Sayuti yang menghargai usaha itu meringkaskannya dengan tajuk: Juhd al-Qarihah fi al tajrid al-Nasihat [lihat kitab Ibn Taimiah].[Sila baca: al-sayuti, saun al-Mantiq wa al-Kalam ‘an Fann al-Mantiq wa al-kalam,2 juzu, tahqiq Dr’Ali Sami al-Nasyar, al-Qahirah: Dar al-Nasr li al-Taba’ah, 1970].

         Inilah bahayanya mereka yang bertaklid buta kepada kata-kata orang tanpa memeriksa terlebih dahulu, benar atau salahnya sehingga membetulkan yang salah dan menyalahkan yang betul benar. Inilah jenis taklid yang dilarang agama.

 

         Tuduhan Mior Suhaimi Hassan yang kedua ialah: “Ibn Taimiah naik ke atas mimbar seraya berkata: Pada dua pertiga malam Tuhan turun daripada “Arasy-Nya ke langit yang pertama….” lalu Ibnu Taimiah pun turun ke bawah dari atas mimbarnya seraya berkata:”…Seperti aku ini .”

         Tuduhan ini tidak ilmiah lagi bersifat ikut-ikutan tanpa usul periksa. Beliau menyandarkannya kepada kalam Ibnu Batutah. Bila diperiksa tuduhan itu ternyata saudara Suhaimi tidak  mengkaji sejarah peristiwa itu secara terperinci. Saya perturunkan di sini: Bahawa Ibnu Batutah rahimahullah tidak mendengar sendiri dari Ibnu Taimiah bahkan beliau tidak ada dalam majlis itu bersama Imam ibn Taimiah. tercatat dalam sejarah Ibn Batutah tiba ke Damsyiq pada hari Khamis 19 Ramadhan, 727 Hijriyah. Sedang Ibnu Taimiah dipenjarakan di penjara Damsyiq sejak awal Sya’ban lagi dari tahun itu, dan beliau tinggal dalam penjara itu sehingga matinya pada malam Isnin 20 Zulka’edah 728H.

         Dari sumber manakah yang beliau petik ? Kalau kita meminjam kaedah ulama hadis, riwayat Ibnu Batutah ternyata mardud [tertolak]; lantaran ketiadaan dabid serta thiqah [teliiti dan percaya]. Ini kerana ia membawa banyak hikayat yang ganjil, lagi salah. Sebagai contoh: Katanya ditengah-tengah Masjid Umawi di Damsyik, ada kubur Nabi Zakariya a.s. ,tetapi sebenarnya kubur itu ialah perkuburan Nabi yahya’ a.s.; beliau juga mengatakan Sufyan al-Thawri berkata bersembahyang di Masjid Damsyid fadilatnya tiga puluh ribu; hal ini diingkari kerana Sufyan al-Thawri sebagai seorang ahli hadis tentu  ingat bahawa sembahyang di Masjid Nabi, Masjidil Haram dan Masjid al-Aqsa itu lebih afdal dari tempat lain ! [lanjutnya baca: al-syaikh muhammad Bahjat al-Baisar, hayat syaikh al-Islam Ibn Taimiah, Bayrut: al-Maktab al-islami,1972],hal.36-43.

Ibnu Taimiah berlepas diri dari fitnah

         Sesungguhnya Ibnu Taimiah berlepas diri dari fitnah jahat seperti itu; malah beliau adalah pembela al-Sunnah dan mazhab Salaf. Hal ini diakui sendiri oleh Dr.Abdul ‘Azim Abdul Salam Syarifuddin dalam bukunya: Ibn Qayyim….[Azhar:Maktabah al-Kuliyyat al-Azhariyyah, cetakan ke 2,1967], hal.344. Hal yang sama dikemukakan oleh al-Imam al-Hafiz al-Muhaqiq Abi Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi [704-744H], dalam bukunya “al-Uquq al-Duriyyah,”tahqiq:Muhammad Hamid al-Faqi,Bayrut:Dar al-Kitab al-’Ilmiyah , tt].

 

Tuduhan Terhadap Syeikh Muhammad Abdul Wahhab

         

         Imbasan tuduhan seorang terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab [1115-1206H/1703-1794M] juga adalah  tidak benar. Beliau sebenarnya menyeru umat Islam kembali kepada Al-Quran dan al-sunnah; supaya umat Islam kekal dengan pegangan ahli sunnah seperti yang diperintah oleh  Allah swt:

“Jika sekiranya kamu berselisih dalam sesuatu perkara maka hendaklah kembali kepada Allah dan rasulNya [al-Quran dan sunnah]; kiranya kamu betul-betul beriman kepada Allah dan hari akhirat. Yang demikian adalah lebih baik [bagi kamu] dan lebih elok pula kesudahannya.”{an-Nisa’/4:59}.

 

         Apakah orang yang menyeru menurut perintah al-Quran itu tidak betul ? Subhanallah ! Mana lagi tempat kita berhakim kalau kita benar-benar beriman kepada Allah dan RasulNya ? Tidakkah kepada al-Quran dan al-Sunnah ? Sesungguhnya lantaran mempertahankan pendapat ulama melebihi kalam Allah dan Sunnah RasulNyalah menyebabkan sesatnya umat Islam; mereka lebih berpegang kepada qaul syaikh dan guru mereka dari Kalam Allah dan sunnah! Kebenaran kepada mereka apa yang lahir dari guru mereka meskipun menyalahi Kitab Allah dan Sunnah.

         Perkara ini bukan perkara baru, tetapi dinyatakan  oleh Al quran sejak dulu lagi iaitu:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya,dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan [mereka mempertuhan] Al Masih putra Maryam ,pada hal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.[ At-Taubah :31]

         Hanya mereka yang tidak meneliti Kalam Allah dan memahaminya saja menganggapnya sebagai perkara baru lantaran terserkap dengan pandangan guru serta syaikh mereka.

         

         Sohaimi Mior Hassan menulis:” ….Muhammad bin Abdul Wahab kebetulan adalah murid IbnuTaimiah………”

         Beliau menulis lagi :” Fahaman Muhammad bin Abdul Wahab ini menjalar ke seluruh Tanah Melayu. Di negeri Arab muncul imam-imam baharu seperti Syeikh Muhammad Abduh, mufti mesir murid kepada muhammad Abdul wahab….”

 

Adalah terhitung dalam mereka yang tidak tahu sejarah dengan menisbahkan dan mengatakan bahawa Imam Muhammad Abdul Wahhab [1115H-1206H] sebagai murid kepada Ibnu Taimiah [661-728H] . Bagaimana  pula boleh terjadi orang meninggal 387 tahun boleh menjadi guru kepada orang yang lahir kemudiannya ? Perhatikanlah tarikh di atas. Padahal murid Ibn Taimiyah ialah Ibnu Qayyim . Begitu juga ia mengatakan bahawa imam Muhammad Abduh [1849-1905M] sebagai murid kepada Muhammad Abdul Wahab [1703-1794M]. Bagaimana pula orang yang meninggal 55 tahun boleh menjadi guru kepada orang yang lahir kemudiannya. Perhatikanlah tarikhnya.

 

Masaalah Ijtihad

         

         Berhubung dengan soal ijtihad, ia hanya tertentu dalam masaalah yang tidak ada nas. Perkara yang telah ada nas sekali-kali tidak dibenarkan berijtihad. Justeru itu perkara ibadat tidak boleh diijtihadkan. [Qias juga tidak boleh dalam ibadat]. Ijtihad hanya boleh dalam soal urusan umum maslahat umat Islam yang tidak menyentuh ibadat yang telah tersedia nasnya                       [ketentuannya].

         

Abu Hasan Al-Asy’ari  kembali kepada pegangan Salaf

         

         Disebut juga bahawa ahli sunnah berpegang kepada qaul Abul hasan al-Asy’ari [260-330H].

          Hal ini tidak terlepas dari omong-omong kosong tanpa fakta; keliru dan mengelirukan  . Ini adalah kerana sebelum itu beliau menyatakan sebagai berikut :..” Ulama bersepakat bahawa hanya satu ahlu sunnah. Dialah Rasulullah, beliaulah contoh insan kamil…” Kemudian beliau juga menyebutkan:…”Ahlu sunnah sepakat berpegang pada qaul Abul Hasan al-asy’ari [mazhab Syafi’i] dan Abu Mansur al-Maturidi [248H-333H/862-944M[Mazhab Hanafi].

         Kita tidak berhajat mengulangi pengertian dan maksud ahlu sunnah. Apa yang perlu di sini ialah mereka yang berpegang kepada qaul Abul Hasan Asy’ari . Yang jelasnya menurut istilah terpakai lagi diterima kepada mereka yang berpegang  kepada qaul  Abul Hasan Asy’ari  dinamakan Asy’riyyah. Gelaran ini ialah  untuk mereka yang benar-benar berpegang kepada Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Sementara orang yang mengikut Asy’ariyah ini dipanggil sebagai Asy’irah. Di sana ada perbezaan yang ketara diantara dua istilah itu. Begitu juga dengan mereka  yang betul-betul berpegang dengan pendapat Imam  Al-Syafi’i , mereka dinamakan sebagai Al-Syafi’i; pengikut kepada al-Syafi’i ini dipanggil al-Syafi’iyah; begitulah seterusnya lahir istilah al-Maliki dan al-Malikiyyah ,al-Hanafi  dengan al-Hanafiyyah ,Hanbali dengan Hanabilah. Istilah-istilah ini muncul  kerana adanya Imam-imam  dalam mazhab itu yang  berijtihad di dalam ruang lingkup mazhab masing-masing; mereka digelar sebagai mujtahid   mazhab .Tegasnya mujtahid itu ada beberapa macam:

 

Mujtahid dalam syariat :

Mereka bebas dari ikatan mazhab tertentu seperti  Imam Abu hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad, auza’i, Dawud al-Zahiri, al-Imam al-Tabari. semua ini dari kalangan sunni. Dalam Mazhab Syi’ah pula ialah Imam Ja’afar al-Sadiq.

Mujtahid yang tidak bebas dari mazhab tertentu: 

Mereka ini dalam beberapa masalah pokok dan banyak masalah cabang berbeza dengan pendapat Imam-imam yang disebutkan di bahagian [1]. Merka ini disebut sebagai mujtahid Mazhab. Nama-nama seperti Imam Abu yusuf dan muhammad bin Hasan dari mazhab Hanafi dan al-Muzzani dari mazhab al -Syafi’i.

Mujtahid dalam beberapa masaalah dan fatwa:

Meraka ini berijtihad dalam setengah-setengah masaalah tanpa mendasari kepada dasar umum mazhabnya seperti Al-Tahawi dan al-Sarkhasi dalam mazhab Hanafi dan Imam al-Ghazali dalam mazhab al-Syafi’i.

Mujtahid muqayyad:

Yakni yang terikat dengan pendapt-pendapat ulama sebelumnya dan mengikuti ijtihad mereka; pendeknya mereka ini   dapat membezakan riwayat-riwayat yang kuat, lemah atau da’if. Nama-nama seperti al-Karkhi dan al-Qaduri adalah antaranya.

[Lihat Ibn “Abidin, Uqud rasm al-Mufti, syria: Matba’ah al-Ma’arif,1301H]hal.4-5.

 

         Setelah diketahui mujtahid-mujtahid itu ; manakah yang diikuti oleh umat Islam kini khususnya sebahagian ahli tarekat di negara kita ? Apakah  mereka mengikut Mujtahid imam As-Syafi’i atau ulama yang berada dalam mazhab as-Syafi’i atau mereka itu menjadi pengikut kepada  al-Syafi’iyyah. Pembaca [berilmu agama] boleh menilai  semula secara sendiri. Kalau kita betul-betul mengikut Imam As-Syafi’i tentunya kita merujuk kepada fatwa-fatwa al-Syafi’i yang terkumpul dalam al Umm, umpamanya.

         Perlu diketahui bahawa Abu Hasan Al-Asya’ari, setelah beliau meninggalkan mazhab Mu’tazilah, beliau berpegang kepada hadis, dan dalam masaalah akidah beliau lebih mirip kepada fahaman Imam Ahmad bin Hanbal selaku ahli hadis; tetapi dalam masalah fiqh lebih mirip kepada al-Syafi’i.

[Penyalin: Peringkat pertamanya Abu Hasan Al-Asy’ari  terlibat dalam aliran Muktazilah; kemudian dalam peringkat kedua membawa aliran Al-Asy’ariyyah[ mena’wil berita mengenai sifat-sifat Allah seperti wajah dierti diri, tangan dierti kekuasaan dan lain-lain] atau dikenali Sifat dua puluh dan sesudah itu pada peringkat ketiganya menjadi pejuang fahaman salaf [tanpa takwiil sifat-sifat khabariyah malah telah menetapkan adanya semua sifat Allah tanpa takyiif dan tanpa  tasybiih] dengan menjadikannya teras kepada faham Ahlu As- Sunnah wal-Jamaah]. Sila baca buku “Aqidah Salaf Pegangan terakhir Imam Al-Asy’ari” oleh Asy-Syaikh Hamaad bin Muhammad al-Ansaari-Pensyarah Universiti Islam Madinah[ terjemah oleh Ust Abdullah al-Qari]  dan karya Abu Hasan Al-Asy’ari iaitu “Al-Ibaanah Fi Usuul Ad-Diyaanah” Antara ulama yang memperkatakan  kitab al-Ibaanah dan menghubungkannya kepada Abu Al-Hasan Al-Asya’ari ialah Taqiyuddin Ahmad b. Ab.Haliim b. Ab.Salaam yang terkenal dengan gelaran Ibnu Taimiyyah. Ini membuktikan dengan jelas dasar dan pegangan atau akidah Ibnu Taimiyyah adalah diambil daripada rumusan-rumusan aqidah As Salaf yang pernah di tulis dan disebarkan oleh Imam Al-Asy’ari sendiri. Oleh itu mengapa ada segolongan ulama dan bukan ulama yang mengecam dan menolak aqidah Syaikh Al-Islam ini ?]

         Di dalam kitabnya al-Ibanah fi usul al-diyanah beliau menyebutkan:..”Kata-kata kami yang kami ucapkan dengannya dengan agama kami yang kami beragama dengannya:berpegang dengan Kitab Allah Tuhan kita Azzawajal, dan dengan Sunnah Nabi kita Muhammad s.a.w, dan apa yang diriwayatkan dari tokoh-tokoh sahabat, tabi’in dan juga imam-imam hadis, dan kami dengan yang demikian itulah tempat kami berpegang , dan juga apa yang dikatakan dengannya oleh Imam Ahmad bin Hanbal, semuga Allah bersihkan wajahnya dan tinggikan darjatnya.” [Baca: al-Ibaanah, tahqiq Dr.Fauqih Husayn Mahmud, al-Qahirah: Maktabah Dar al-Ansor,1977], hal.202.

         Demikianlah pengakuan terus-terang mereka yang berpegang dengan sunnah, lantas kerana itulah mereka digelar ahli sunnah. Dan perhatikanlah pula mereka yang mengaku ahli sunnah tetapi menyalahi sunnah. Tidak mahu beramal dengan sunnah, tetapi menjadi pak turut kepada syaikh-syaikh dan orang tertentu, tanpa menghiraukan sunnah. Malah mereka melakukan bid’ah melebihi sunnah. Mereka layak digelar ahli bid’ah bukannya ahli sunnah.

         Adalah menjadi kewajipan kita untuk memahami pengertian ahli sunnah menurut setepatnya; bukannya dengan kefahaman yang kabur, tanpa mengetahui yang mana sunnah yang sahih dan mana sunnah yang tidak sahih. Hingga bukan sunnah pun dikatakan sebagai sunnah. Berpegang kepada sunnah adalah syarat menjadi ahli sunnah.

a genius spin off

Friday, June 9th, 2006

A warning sign
I missed the good part then I realised
I started looking and the bubble burst
I started looking for excuses

Come on in
I’ve got to tell you what a state I’m in
I’ve got to tell you in my loudest tones
That I started looking for a warning sign

When the truth is
I miss you
Yeah the truth is
That I miss you so.

A warning sign
You came back to haunt me and I realised
That you were an island and I passed you by
When you were an island to discover

Come on in
I’ve got to tell you what a state I’m in
I’ve got to tell you in my loudest tones
That I started looking for a warning sign

When the truth is
I miss you
Yeah the truth is
That I miss you so

And I’m tired
I should not have let you go

So I crawl back into your open arms
Yes I crawl back into your open arms
And I crawl back into your open arms
Yes I crawl back into your open arms